Entri Populer

Jumat, 30 Maret 2012

Anas bin Malik

Beliau lahir di Yatsrib (Madinah) 8 tahun sebelum Hijriah. Nama lengkapnya Anas bin Malik bin an-Nadhar bin Dhomdhom al-Anshory al-Khazrojy. Biasa dipanggil Abu Hamzah, juga digelari ‘Khodim ar-Rasul’ (Pembantu Rasul). Anas diserahkan oleh ibunya Ummu Sulaim, kepada Rasulullah di  kala Rasulullah datang dari Mekah setelah perintah hijrah dari Allah SWT. Penduduk Madinah saat itu benar-benar mengalu-alukan kedatangan Rasulullah, termasuk Anas yang masih kecil dan Ibunya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim telah menanamkan di hati Anasyang masih kecil rasa cinta terhadap Rasulullah, sehingaa dia tidak sabar untuk bertemu Rasulullah SAW.
Ayah Anas sempat menentang Ummu Sulaim memeluk agama Islam, namun tentangan dari ayah Anas tidak menggentarkan sedikitpun hati Ummu Sulaim dalam memeluk Islam sebagai sebuah kepercayaan yang mencerahkan peradaban manusia kala itu, agama samawi yang diajarkan Muhammad Rasulullah SAW. Ayah Anas dikabarkan meninggal dalam sebuah perselisihan ketika dia sedang berada di luar rumah, sehingga akhirnya Anas hidup sebagai seorang yatim.

Akhirnya tiba masa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah. Mendengar hal ini Anas dan Ummu Sulaim sangat bahagia seperti halnya apa yang dirasakan oleh penduduk Madinah lainnya yang telah memeluk Islam. Katika Rasulullah tiba di Madinah, penduduk berbondong-bondong menyambut beliau. Mereka memberikan hadiah kepada Rasulullah, hingga akhirnya sampailah giliran Anas dan Ummu Sulaim bertemu dengan beliau.
Ummu Sulaim berkata, ”Ya Rasulullah, orang-orang Ansar baik lelaki mahupun perempuan telah memberikan hadiahnya kepada tuan. Tetapi saya tidak memiliki apa-apa untuk saya hadiahkan kepada tuan kecuali anak saya ini. Maka ambillah dia berkhidmat kepada tuan untuk membantu apa yang tuan mahukan.” Rasulullah pun menerima hadiah Ummu Sulaim dengan senang hati. Sejak saat itu Anas bin Malik yang berusia 10 tahun hidup bersama Rasulullah dalam bingkai rumah Rasulullah.

Dalam rumah Rasulullah inilah Anas belajar dan menangkap perilaku Rasulullah yang mulia. Anas menyaksikan perilaku Rasulullah SAW dan berinteraksi secara langsung dengannya. Hampir segala perilaku atau sikap Rasulullah SAW diperhatikan dan kemudian diamalkan olehnya. Abu Hurairah berkata, “Saya belum pernah melihat orang yang menyerupai solatnya Rasulullah kecuali Ibn Ummu Sulaim (maksudnya Anas). Sealain itu, Ibnu Sirin berkata, “Anas adalah sahabat yang solatnya paling bagus, baik di rumah maupun pada waktu Safar.”
Anas menyaksikan secara langsung bagaimana mulianya akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.  Anas pernah berkata, “Saya berkhidmat kepada Rasulullah selama sepuluh tahun. Tidak pernah sekalipun Rasulullah berkata: “Mengapa kamu buat begitu…” jika saya melakukan sesuatu. Apabila saya tidak melakukan sesuatu perkara, Baginda tidak pernah beberkata: “Mengapa kamu tidak lakukannya…””

Anas bercerita, “Suatu hari Rasulullah menyuruhku untuk suatu keperluan. Saya pun keluar rumah. Dan jalan berjumpa dengan anak-anak sedang bermain. Saya pun ikut bermain bersama mereka. Saya malah tidak memenuhi perintahnya. Selesai bermain dengan mereka, tiba-tiba saya merasa ada orang berdiri dibelakang saya. Setelah saya menoleh, ternyata Rasulullah sambil memagang bajuku. Sambil tersenyum Rasulullah berkata, “Wahai Anas, Apakah kamu sudah kerjakan perintahku?” Saya merasa bersalah. Saya pun menjawab, “Baiklah, saya pergi sekarang.”

Rasulullah SAW memanggil Anas dengan pangilan kasih sayang, Unais, dan terkadang Beliau memanggil “Anakku”. Rasulullah sering memberikat nasihat-nasihat kepadanya. Seperti nasihatnya kepada Anas berikut ini, “Anakku, bila kau mampu berada di pagi dan petang hari tanpa ada dengki di hatimu pada siapapun, maka lakukanlah…! Anakku, yang demikian adalah termasuk sunnahku, barang siapa yang menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku… barang siapa yang mencintaiku maka ia akan berada di surga bersamaku…Anakku, jika kau masuk ke dalam rumah ucapkanlah salam karena itu akan membawa keberkahan bagimu dan juga bagi penghuni rumahmu.”

Rasulullah pun pernah mendoakan atas Anas bin Malik, “Allahumma Urzuqhu Maalan wa Waladan, wa Baarik Lahu (Ya Allah, berikanlah kepadanya harta dan keturunan, dan berkatilah hidupnya).” Doa Rasulullah SAW tersebut dikabulkan oleh Allah, Anas dikurniakan usia yang panjang. Anas bin Malik hidup selama 103 tahun lamanya, ketika Rasulullah meninggal, Anas masih melanjutkan perjalanan hidupnya hingga 80 tahun kemudian. disebabkan anugerah usianya yang panjang Anas bin Malik berkata, “Tidak ada orang yang tersisa (dari sahabat) yang dapat solat di masjid Qiblatain (dua qiblat) kecuali saya.”Anas juga dikurniakan keturunan yang banyak oleh Allah SWT, iaitu tidak kurang dari 100 orang anak serta cucu beliau. Apabila mengkhatamkan al-Qur’an, beliau mengumpulkan isteri dan anak-anaknya dan kemudian berdoa. Anas juga dikarunia oleh Allah harta yang cukup. Sehingga beliau  menjadi salah seorang pemuda terkaya dari kalangan Ansar.

Anas adalah muslim yang soleh, dan taat terhadap perintah Rasulullah. Anas bin Malik tidak berperang dalam perang Badar Akbar, karena usianya masih  muda. Tetapi beliau banyak mengikuti peperangan lainnya sesudah itu. Anas bin Malik turut serta ikut dalam perang Yamamah, di mana perang ini hampir saja jiwanya terenggut saat terkena kait dari besi panas yang dilempar dari benteng musuh. Namun atas izin Allah beliau berhasil diselamatkan oleh saudaranya sendiri Baro’ bin Malik.
Beliau adalah seorang Mufti, Qori, Muhaddith, dan Perawi Islam. Beliau mendapatkan banyak ilmu dari Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Usman, Mu’ad, Usaid Al Hudair, Abu Tholhah,iIbunya sendiri Ummu Sulaim putri Milhan, ibu saudaranya Ummu Haram dan suaminya Ubadah bin Shamit, Abu Dzar, Malik bin Sha’sha’ah, Abi Hurairah, Fatimah dan masih banyak lainnya.Pada waktu Abu Bakar meminta pendapat Umar mengenai pelantikan Anas bin Malik menjadi pegawai di Bahrain, Umar memujinya :” Dia adalah anak muda yang cerdas dan boleh membaca dan menulis, dan juga lama bergaul dengan Rasulullah”.

Dalam perjalanan 10 tahun bersama Rasulullah Anas bin Malik telah meriwayatkan ribuan hadis. Anas bin Malik merupakan sahabat ketiga terbanyak  meriwayatkan hadis, iaitu sebanyak 2.286 hadits . Hal yang paling membuat sedih Anas bin Malik adalah saat-saat Rasulullah wafat. Jika ia terkenang kepergian Rasulullah maka ia akan sangat bersedih hati hingga orang-orang disekelilingnya juga turut bersedih. Anas bin Malik berkata, “Aku melihat Nabi SAW saat Baginda datang kepada kami, dan akupun melihatnya saat Baginda wafat. Sampai kini aku belum menemukan hari lain seperti kedua hari tersebut. Pada hari Baginda datang ke Madinah, Baginda mampu menerangi semuanya… dan pada hari  hampir Baginda melangkah menuju sisi Tuhannya, maka seolah semuanya menjadi gelap. Kali terakhir aku melihat Baginda adalah hari Isnin di saat tirai kamar Baginda di buka. Aku melihat wajah Baginda seolah lembaran kertas. Saat itu semua orang berdiri di belakang Abu Bakar seraya memandang ke arah Baginda. Hampir saja mereka tak kuasa menahan diri. Lalu Abu Bakar memberi isyarat kepada mereka untuk tenang. Lalu wafatlah Rasulullah SAW di penghujung hari itu. Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih pelik pada kami melebihi wajah Baginda saat kami mengubur jasad Baginda dengan tanah.”

Saat-saat yang paling membahagiakannya adalah saat pertama beliau bertemu Rasulullah SAW, dan saat yang paling membuatnya sedih adalah saat dimana Rasulullah pergi ke pangkuaan Allah. Sepeninggalan Rasulullah SAW Anas pergi ke Damaskus. Dari Damaskus beliau pindah ke Basrah. Dengan bekal pelajaran langsung dari  kekasih Allah, Rasulullah SAW Anas bin Malik mengamalkan setiap pelajaran beharga yang beliau dapati selama 10 tahun bersama orang yang menjadi qudwah bagi umat muslim di seluruh dunia saat ini.
Setelah menjalani hidupnya sekitar satu abad beliau wafat pada tahun 91 Hijrah. Saat terakhirnya ia jatuh sakit dan pada saat tersebut dia berpesan kepada keluarganya, “Ajarkan aku kalimat La ilaha illahu, Muhammadun Rasulullah.” Dia terus mengucapkan kalimat tersebut hingga pada akhirnya dia meninggal dunia. Pada wafatnya Muwarriq berkata: “ Telah hilang separuh ilmu. Jika ada orang suka memperturutkan kesenangannya bila berselisih dengan kami, kami berkata kepadanya, marilah menghadap kepada orang yang pernah mendengar dari Rasululah SAW.”

Anas bin Malik pembantu Rasulullah yang senantiasa mencintai Rasulullah SAW hingga akhir hayatnya adalah salah satu sahabat yang patut kita teladani kesetiaannya. Anas senantiasa  berkeinginan untuk berjumpa dengan Rasulullah SAW saat di akhirat, Anas bin Malik sering berkata, “Aku berharap dapat berjumpa dengan Rasulullah Saw pada hari kiamat sehingga aku dapat berkata kepada Beliau: “Ya Rasulullah, inilah pembantu kecilmu, Unais.”


عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
Dari Anas r.a. katanya :
"Rasulullah s.a.w. bersabda :
"Makan sahurlah kamu kerana makan sahur itu berkat."
Hadis sahih riwayat Muslim

Rahmat atau Musibah?

Kisah ini adalah sebuah sejarah kecil pada era Abbasiyah akhir, di mana negeri-negeri Islam tersekat oleh pelbagai kesultanan yang berkuasa sendiri-sendiri. Ini adalah kisah tentang seorang ayah dan anak. Sang ayah adalah seorang bekas hamba (budak). Sepanjang menjadi hamba, cuti pada petang Jumaat sebagaimana yang ditetapkan oleh kesultanan, dimanfaatkan sepenuhnya dengan berhabis-habisan bekerja. Dengan dirham demi dirham yang terkumpul, pada suatu hari dia meminta izin untuk menebus dirinya pada sang majikan.

“Tuan,”ujarnya. “Apakah dengan membayar harga senilai dengan harga engkau membeliku dulu, aku kan bebas?”
“Hmm…Ya. Boleh.”
“Baik, ini dia,”katanya sambil meletakkan bungkusan wang itu di hadapan tuannya. “Allah telah membeliku dari tuan. Dia membebaskanku. Alhamdulillah.”
“Maka engkau bebas kerana Allah,”ujar sang tuan tertakjub. Sang tuan bangun dari duduknya dan memeluk sang budak. Dia hanya mengambil separuh harga yang tadi disebutkan. Separuh lagi diserahkannya kembali. “Gunakanlah ini,”katanya berpesan, “Untuk memulai kehidupan barumu sebagai orang yang merdeka. Aku berbahagia menjadi sebagian tangan Allah yang membebaskanmu!”

Dengan penuh rasa syukur dan terharu, dan juga sedikit khuatir, dia berkata. “Aku tidak tahu wahai tuanku yang baik,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, “Apakah kebebasan ini rahmat atau musibah. Aku hanya berbaik sangka kepada Allah.
*******
Tahun demi tahun berlalu. Sang hamba telah menikah. Tetapi isterinya meninggal dunia ketika menyelesaikan tugas sebagai ibu, menyempurnakan susuan sang putera hingga usia dua tahun. Maka dia membesarkan puteranya dengan penuh kasih sayang. Dididiknya anak lelaki itu, untuk memahami agama dan menjalankan sunnah Nabi, juga untuk bersikap berani dan berjiwa merdeka.

“Anakku,” katanya di suatu pagi, “Ayahmu ini dulu seorang hamba. Ayahmu ini separuh manusia di mata agama dan sesama manusia. Tapi selalu ku jaga kehormatan dan kesucianku, maka Allah memuliakanku dengan membebaskanku. Dan jadilah kita orang merdeka. Ketahuilah anakku, orang bebas yang paling merdeka adalah orang yang mampu memilih caranya untuk mati dan menghadap Ilahi.”

“Ketahuilah,” lanjutnya, “Seorang yang syahid di jalan Allah itu hakikatnya tak pernah mati. Saat terbunuh, dia akan disambut oleh tujuh puluh bidadari. Ruhnya menanti kiamat dengan terbang ke sana ke mari dalam tubuh burung hijau di taman syurga, dan diizin baginya memberi syafaat bagi keluarganya. Mari kita merebut kehormatan itu, nak, dengan berjihad lalu syahid di jalan-Nya!”
Sang anak mengangguk-angguk.

Sang ayah mengeluarkan sebuah kantung berisi emas. Dinar-dinar di dalamnya bergemerincing. “Mari mempersiapkan diri,” bisiknya. “Mari kita beli yang terbaik dengan harta ini untuk dipersembahkan dalam jihad di jalan-Nya. Mari kita belanjakan wang ini untuk menghantar kita pada syahid dengan sebaik-baik tunggangan.”

Pada hari siang, mereka pulang dari pasar dengan menuntun seekor kuda perang berwarna hitam. Kuda itu gagah. Surainya mekar menjumbai. Tampangnya mengagumkan. Matanya berkilat. Giginya rapi dan tajam. Kakinya tegap. Ringkiknya pasti membuat kuda musuh tak diam.

Semua tetangga datang mengagumi kuda itu. Mereka menyentuhnya, mengelus surainya. “Kuda yang hebat!”kata mereka. “Kami belum pernah melihat kuda seindah ini. Luar biasa! Mantap sekali! Berapa yang kalian habiskan untuk membeli kuda ini?”
Anak beranak itu tersenyum simpul. Yah, itu simpan yang dikumpulkan seumur hidup.

Pada tetangga ternganga mendengar jumlahnya. “Wah!,” seru mereka, “Kalian masih waras atau sudah gila? Wang sebanyak itu dihabiskan untuk membeli kuda? Padahal rumah kalian senget nyaris roboh. Untuk makan esok pun belum tentu ada!” Kekaguman di awal tadi berubah menjadi cemuhan. “Pandir!” kata salah satu. “Tak tahu diri!”ujar yang lain.
Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah,”ujar mereka.

Para tetangga pulang. Sang ayah dan anak itu pun menjaga kuda mereka dengan penuh kasih sayang. Makanan si kuda dijamin yang terbaik; rumput segar, jerami kering, biji-bijian, dedak, air segar, malah bahkan ditambah madu. Si kuda dilatih keras, tapi tak dibiarkan lelah tanpa mendapat hadiah. Kini mereka tak hanya berdua, tetapi bertiga. Bersama-sama menanti panggilan Allah ke medan jihad untuk menjemput takdir terindah.

Sepekan berlalu. Pada hening pagi, ketika sang ayah mejemguk ke kandang, dia tak melihat apa pun. Kosong. Palang pintunya patah. Beberapa jeruji kayu terpatah teruk.
Kuda itu hilang!

Berduyun-duyun para tetangga datang untuk mengucapkan belas kasihan. Mereka bersimpati pada cita-cita tinggi kedua anak beranak itu. Tetapi mereka juga menganggap keduanya tersilap dan malang. “Ah, sayang sekali!” kata mereka, “Padahal itu kuda terindah yang pernah kami lihat. Kalian memang tidak beruntung. Kuda itu hanya hadir seketika untuk memuaskan cita-cita kalian, lalu Allah membebaskannya dan mengandaskan cita-cita kalian!”
Sang ayah tersenyum sambil mengusap kepala anaknya. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah,”ujar mereka serentak.

Mereka pasrah. Mereka mencuba untuk menghitung-hitung wang dan mengira-ngira, jika mampu membeli kuda lagi. Sang ayah menatap mata puteranya, “Nak, dengan adanya kuda ataupun tidak, andai panggilan jihad Allah datang, kita harus menyambutnya.”Si anak mengangguk-angguk. Mereka kembali bekerja dengan tekun seakan-akan tidak terjadi apa-apapun.

Tiga hari kemudian, menjelang subuh, kandang kuda mereka riuh. Suara ringkikan bersahut-sahutan. Terkejut dan terjaga, ayah dan anak itu berlari-lari ke kandang. Di kandang itu, mereka melihat seekor kuda hitam yang gagah dan indah. Tak salah lagi, itulah kuda mereka yang pergi tanpa khabar tiga hari yang lalu!

Akan tetapi, kuda itu bukan bersendirian. Ada belasan kuda lain bersamanya. Kuda-kuda liar! Itu pasti kawan-kawannya. Mereka datang dari kawasan luas untuk bergabung di kandang kuda hitam itu. Mungkinkah kuda punya akal? Mungkinkah si kuda hitam yang merasakan layanan terbaik di kandang bekas seorang hamba mengajak kawan-kawannya bergabung? Atau tahukah mereka bahawa kehadiran ke kandangitu bererti bersiap-siaga bertaruh nyawa untuk kemuliaan agama Allah, kelak jika panggilan jihad memanggil? Atau memang itu kah yang mereka inginkan?

“Bertasbih kepada Allah segala yang di langit dan di bumi. Dan Allah  Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (Surah as-Saff 61:1)

Ketika hari semakin terang, para tetangga datang dengan rasa takjub. “Luar biasa!”kata mereka. “Kuda itu pergi memanggil kawan-kawannya dan kini kembali membawa kawan-kawannya menggabungkan diri!” Mereka mengucapkan selamat kepada pemiliknya. “Wah, kalian sekarang kaya raya! Orang terkaya di kampung ini!” Tapi si pemilik kembali hanya tersenyum. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Hari keesokkannya, sang anak mencuba menaiki salah seekor kuda liar itu. Dia gembira memacu kuda ke segala penjuru. Seketika, kuda liar itu terkejut kerana bertembung dengan seekor lembu yang terlepas dari kandang di persimpangan jalan. Kuda itu meronta kuat, dan sang anak terpelanting. Kaki sang anak patah, dan dia merintih kesakitan.

Para tetangga datang menjenguk. Mereka menatap sang anak itu dengan pandangan penuh hiba. “Kami turut prihatin,”kata mereka. “Ternyata kuda itu tidak membawa tuah. Mereka datang membawa musibah. Alangkah lebih baiknya jika tidak memiliki kuda, jika anak sihat sentiasa!”
Sang ayah tersenyum lagi. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Hari berikutnya, hulubalang raja mengelilingi negeri. Raja mengumumkan pengerahan psukan untuk menghadapi tentera musuh yang menyerang perbatasan. Semua pemuda yang sihat tubuh badan jasmani dan rohani, wajib bergabung untuk mempertahankan negeri. Sayang sekali, perang ini sukar dikatakan sebagai jihad di jalan Allah kerana musuh yang akan dihadapi adalah sesama Muslim. Mereka hanya berbeza kesultanan.

“Nak,” bisik sang ayah ke telinga anaknya yang sedang berbaring lemah, “Semoga Allah menjaga kita dari menumpahkan darah sesama Muslim. Allah Maha Tahu, kita ingin berjihad di jalan-Nya. Kita sama sekali tidak mahu beradu senjata dengan orang-orang beriman. Semoga Allah membebaskan diri kita dari beban itu!” Mereka berpelukan.

Para hulubalang datang mengunjungi setiap rumah dan membawa para pemuda yang memenuhi syarat. Ketika memasuki rumah sang ayah dan anak yang memiliki kuda, mereka mendapati sang anak terbaring di tempat tidur dengan kaki berbalut, dibalut dengan kayu dan kain.

“Mengapa dengan pemuda ini?’
“Tuan hulubalang,”ujar sang ayah, “Anak saya ini begitu mahu membela negeri dan dia telah berlatih untuk itu. Tetapi beberapa hari yang lepas, dia terjatuh dari kuda ketika sedang cuba menjinakkan kuda liar kami. Kakinya patah.”
“Ah, sayang sekali!” kata sang hulubalang. “Aku lihat dia begitu gagah. Dia pasti akan menjadi seorang perajurit yang hebat. Tapi baiklah. Dia tidak memenuhi syarat. Maafkan aku, aku tidak boleh membenarkannya turut serta!”

Dan pada hari itu, para tetangga yang ditinggal pergi oleh putera-putera mereka yang terpilih menjadi perajurit, datang menemui pemilik kuda. “Ah, nasib!”kata mereka. “Kami kehilangan anak-anak lelaki kami, tumpuan harapan keluarga. Kami terpaksa melepaskan mereka tanpa tahu apakah mereka akan kembali taua tidak. Sementara anakmu masih di rumah kerena kakinya patah. Beruntunglah kalian! Allah menyayangi kalian!”
Tuan rumah ikut hiba melihat kesediahan di wajah-wajah itu. Kali ini sang ayah dan anak itu tidak tersenyum. Tapi ucapan mereka kembali bergema, “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Sebulan kemudian, kota itu dipenuhi ratapan para ibu dan tangisan para isteri. Sementara para lelaki hanya termenung dan termangu. Beritanya sudah jelas. Semua pemuda yang berangkat ke perang tewas di medan tempur. Tapi agaknya para penduduk telah banyak belajar dari anak beranak pemilik kuda. Seluruh penduduk kota kini mengucapkan kalimah indah itu. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Disingkatkan cerita, tidak berapa lama kemudian panggilan jihad yang sebenar bergema. Pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan menyerbu wilayah Islamn dan membumi-hanguskannya sehingga rata dengan tanah. Orang-orang Mongol maju menyerang seperti banjir bah, menghancurkan peradaban. Sang ayah dan anak itu memenuhi janji mereka. Mereka bergegas menyambut panggilan jihad dangan kalimah indah mereka, “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.”

Kedua-duanya menemui syahid. Namun sebelum itu, ada nikmat yang Allah kurniakan kepada mereka untuk dirasai di dunia. Sang anak telah ditangkap oleh pasukan Mongol dan dijual sebagai hamba. Dia berpindah-pindah tangan pemilik sehingga jatuh ke tangan Al-Kamil, seorang Sultan Ayubbiyah di Cairo. Ketika pemerintahan Mamluk  menggantikan wangsa Ayyubiyah di mesir, kariernya melonjak cepat dari seorang komando kecil kepada panglima pasukan dan kemudian, Amir wilayah. Setelah wafatnya, Az-Zahir Ruknuddin Baibars, sang anak diangkat menjadi Sultan. Namanya, Al-Manshur Saifuddin Qalawun.

Inilah sekelumit kisah tentangnya. Qalawun yang berani, berprasangka baik dalam segala hal. “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.” Seperti kisahnya, dalam ukhuwah, ada berjuta-juta kebaikan mengiringi prasangka baik kita kepada Allah. Allah sentiasa bersama kita dan melimpahkan kebaikan, kerana kita mengingati-Nya juga dengan sangkaan kebaikan.



عَنْ حِزَام بْنِ حَكِيْمٍ قَالَ : قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ : لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا رَاءُوْنَ بَعْدَ الْمَوْتِ مَا أَكَلْتُمْ طَعَامًا بِشَهْوَةٍ وَلَا شَرِبْتُمْ شَرَابًا عَلَى شَهْوَةٍ وَلَا دَخَلْتُمْ بَيْتًا تَسْتَظِلُّوْنَ فِيْهِ وَلَحَرَصْتُمْ عَلَى الصَّعِيْدِ تَضْرِبُوْنَ صُدُوْرَكُمْ وَتَبْكُوْنَ عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَوَدِدْتُ أَنِّيْ شَجَرَةٌ تُعْضَدُ ثُمَّ تُؤْكَلُ ، قَالَ بَرَدٌ : وَبَلَغَنِيْ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ مَرَّ بِهِ طَائِرٌ فَقَالَ : طُوْبَاكَ يَا طَائِرٌ تَأْكُلُ مِنَ الثَّمَرَاتِ وَتَسْتَظِلُّ بِالشَّجَرِ وَتَرْجِعُ إِلَى غَيْرِ حِسَابٍ
“Dari Hizam bin Hakim, Abu Darda’ berkata, “Seandainya kalian tahu apa yang akan kalian lihat setelah kematian, kalian tidak akan berselera makan, tidak akan berselera minum, tidak pula masuk rumah untuk berteduh, kalian pasti akan berlarian ke lembah dengan memukuli dada dan menangisi diri kalian sendiri. Sungguh aku suka menjadi pohon yang ditebang kemudian dimakan.” Barad juga berkata, “Telah sampai kepadaku dari Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika ada burung yang lewat, beliau berkata, “Alangkah indahnya hidupmu wahai burung, engkau makan bebuahan dan bernaung di pepohonan, dan kembali tanpa dihisab.”

Selasa, 27 Maret 2012

بسم الله الرحمن الرحيم

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين، الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين، والصلاة والسلام على سيد البشر أجمعين، ورسول الله إلى العالمين سيدنا ونبينا محمد بن عبدالله الهادي الأمين، خاتم الرسل، وسيد المرسلين.
وبعد،،،
إلى كل الناس في كل مكان: هذه رسالة صدق، تحمل الكلمة الهادية التي تدعو إلى الله وإلى صراطه المستقيم ودينه القويم، الذي بعث به خاتم رسله محمد بن عبدالله إلى الناس أجمعين.
وهذه أيها الأخوة هي الشبكة السلفية تحمل الكلمة المستنيرة، والموعظة الحسنة، والجدال بالحسنى، عملا بقوله تعالى: {ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين} (النحل:125).
سيجد إن شاء الله كل ضيف يفد على هذه الشبكة الكتب العلمية، والمكتبة العامرة بعلوم الكتاب والسنة.
وسيجد إن شاء الله أخوة الصدق الذين يجتمعون على الحب والموالاة في الله.
وسيجد إن شاء الله كل سائل بحق ومستفت ومستفسر طلبته وهدفه. وسيجد كل من يبحث عن الهداية والسعادة -مهما كانت عقيدته ودينه- دلالة على الطريق الذي يحقق ذلك: {قد جاءكم من الله نور وكتاب مبين * يهدي به الله من اتبع رضوانه سبل السلام ويخرجهم من الظلمات إلى النور بإذنه ويهديهم إلى صراط مستقيم} (المائدة:15-16).
إخواني في كل مكان: لقد سمينا هذه الشبكة باسم الشبكة السلفية، لأن هذه تسمية شريفة، لأن السلف الصالح وهم أصحاب النبي محمد صلى الله عليه وسلم ومن تبعهم بإحسان. والصحابة هم أولى الأمة بفهم الدين والعمل به. وذلك لشهادة الله ورسوله لهم بالخير والفضل.
والنسبة إليهم تشريف لنا، وتعريف بأننا نأخذ بالكتاب والسنة، وما أجمعت عليه الأمة. ونعتقد ما كان يعتقده الصحابة رضوان الله عليهم. ونجعله مثلنا الأعلى في الإيمان والعلم، والجهاد، والخلق. ونقتفي آثارهم، لنكون ممن قال الله فيهم: {والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم} (الحشر:10) وقال فيهم: {والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنت تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم} (التوبة:100).
إخواني في كل مكان: هذه الشبكة السلفية تحمل الهداية والخير، وسنرحب بكل مشاركة ومساهمة، وسنتعاون مع كل من يمد إلينا يده بالعون وصولا إلى تقوى الله، وعمل الخير، ونفع الناس.
وسنفرح كذلك بكل نقد وتقويم، وسنعمل دائما بحول الله على تصحيح المسار، وإزالة العثار.
وختاما فأهلا بكم من كل مكان، وسلام الله ورحمته وبركاته دائما وأبدا على أهل الإيمان والإسلام.

Senin, 26 Maret 2012

Keutamaan Haji

Sudah kita ketahui bersama bahwa haji adalah ibadah yang amat mulia. Ibadah tersebut adalah bagian dari rukun Islam bagi orang yang mampu menunaikannya. Keutamaan haji banyak disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Berikut beberapa di antaranya:
Pertama: Haji merupakan amalan yang paling afdhol.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)
Kedua: Jika ibadah haji tidak bercampur dengan dosa (syirik dan maksiat), maka balasannya adalah surga
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119)
Ketiga: Haji termasuk jihad fii sabilillah (jihad di jalan Allah)
Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »
Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)
Keempat: Haji akan menghapuskan kesalahaan dan dosa-dosa
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).
Kelima: Haji akan menghilangkan kefakiran dan dosa.  
Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)
Keenam: Orang yang berhaji adalah tamu Allah
Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Begitu luar biasa pahala dari berhaji. Semoga kita pun termasuk orang-orang yang dimudahkan oleh Allah untuk menjadi tamu-Nya di rumah-Nya. Semoga kita dapat mempersiapkan ibadah tersebut dengan kematangan, fisik yang kuat, dan rizki yang halal.
Semoga Allah mengaruniakan kita haji yang mabrur yang tidak ada balasan selain surga

shalat jum'at

Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Shalat Jum’at sudah kita ketahui bersama adalah suatu kewajiban.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah ...” (QS. Al Jumu’ah: 9)
Shalat ini diwajibkan bagi: (1) orang yang mukim (bukan musafir), (2) pria, (3) sehat, (4) merdeka dan (5) selamat dari lumpuh
Pelaksanaan shalat Jum’at bisa menjadi sah jika memenuhi syarat-syarat berikut ini:
Pertama: Adanya khutbah
Khutbah jum’at mesti dengan dua kali khutbah karena kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian adanya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Hambali. Ulama Syafi’iyah menambahkan bahwa khutbah Jum’at bisa sah jika memenuhi lima syarat:
  1. Ucapan puji syukur pada Allah
  2. Shalawat kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam
  3. Wasiat takwa [tiga syarat pertama merupakan syarat dalam dua khutbah sekaligus]
  4. Membaca satu dari ayat Al Qur’an pada salah satu dari dua khutbah
  5. Do’a kepada kaum muslimin di khutbah kedua
Namun sebenarnya khutbah yang dituntunkan adalah yang sesuai petunuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya berisi nasehat motivasi dan menjelaskan ancaman-ancaman terhadap suatu maksiat. Inilah hakekat khutbah. Jadi syarat di atas bukanlah syarat yang melazimkan (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1: 583)
Kedua: Harus dilakukan dengan berjama’ah
Dipersyaratkan demikian karena shalat Jum’at bermakna banyak orang (jama’ah). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menunaikan shalat ini secara berjama’ah, bahkan hal ini menjadi ijma’ (kata sepakat) para ulama.
Ulama Syafi’iyah dan Hambali memberi syarat 40 orang bisa disebut jama’ah Jum’at. Akan tetapi, menyatakan demikian harus ada dalil pendukung. Kenyataannya tidak ada dalil –sejauh yang kami ketahui- yang mendukung syarat ini. Sehingga syarat disebut jama’ah jum’at adalah seperti halnya jama’ah shalat lainnya, yaitu satu orang jama’ah dan satu orang imam 
Ketiga: Mendapat izin khalayak ramai yang menyebabkan shalat jum’at masyhur atau tersiar.
Sehinga jika ada seorang yang shalat di benteng atau istananya, ia menutup pintu-pintunya dan melaksanakan shalat bersama anak buahnya, maka shalat Jum’atnya tidak sah. Dalil dari hal ini adalah karena diperintahkan adanya panggilan untuk shalat Jum’at sebagaimana dalam ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah ...” (QS. Al Jumu’ah: 9)
Panggilan ini menunjukkan shalat Jum’at harus tersiar, tidak sembunyi-sembunyi meskipun dengan berjama’ah.
Keempat: Jama’ah shalat Jum’at tidak lebih dari satu di satu negeri (kampung)
Karena hikmah disyariatkan shalat Jum’at adalah agar kaum muslimin berkumpul dan saling berjumpa. Hal ini sulit tercapai jika beberapa jama’ah shalat Jum’at di suatu negeri tanpa ada hajat. Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan pendapat masyhur di kalangan madzhab Imam Malik, menyatakan bahwa terlarang berbilangnya jamaah shalat jumat di suatu negeri (kampung) besar atau kecil kecuali jika ada hajat. Namun para ulama berselisih pendapat tentang batasan negeri tersebut. Ada ulama yang menyatakan batasannya adalah jika suatu negeri terpisah oleh sungai, atau negeri tersebut merupakan negeri yang besar sehingga sulit membuat satu jamaah jum’at.

Mahram dalam islam

Segala puji bagi Allah, Rabb pengatur alam semesta. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Mungkin di antara kita ada yang tidak mengetahui apa itu mahrom dan siapa saja yang termasuk mahromnya. Padahal mahrom ini berkaitan dengan banyak masalah. Seperti tidak bolehnya wanita bepergian jauh (bersafar) kecuali dengan mahromnya. Tidak boleh seorang laki-laki dengan wanita berduaan kecuali dengan mahromnya. Wanita dan pria tidak boleh jabat tangan kecuali itu mahromnya. Dan masih banyak masalah lainnya.
Yang dimaksud mahrom[1] adalah wanita yang haram dinikahi oleh laki-laki. Mengenai mahrom ini telah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,
وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا (22) حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23) وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ
Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.” (QS. An Nisa’: 22-24)
Mahrom di sini terbagi menjadi dua macam: [1] Mahrom muabbad, artinya tidak boleh dinikahi selamanya; dan [2] Mahrom muaqqot, artinya tidak boleh dinikahi pada kondisi tertentu saja dan jika kondisi ini hilang maka menjadi halal. Berikut kami rinci secara ringkas.
Mahrom Muabbad
Mahrom muabbad dibagi menjadi tiga: [1] Karena nasab, [2] Karena ikatan perkawinan (mushoharoh), [3] Karena persusuan (rodho’ah).
[1] Mahrom muabbad karena nasab ada tujuh wanita:
Pertama: Ibu.
Yang termasuk di sini adalah ibu kandungnya, ibu dari ayahnya, dan neneknya (dari jalan laki-laki atau perempuan) ke atas.
Kedua: Anak perempuan.
Yang termasuk di sini adalah anak perempuannya, cucu perempuannya dan terus ke bawah.
Ketiga: Saudara perempuan.
Keempat: Bibi dari jalur ayah (‘ammaat)
Yang dimaksud di sini adalah saudara perempuan dari ayahnya ke atas. Termasuk di dalamnya adalah bibi dari ayahnya atau bibi dari ibunya.
Kelima: Bibi dari jalur ibu (khollaat)
Yang dimaksud di sini adalah saudara perempuan dari ibu ke atas. Termasuk di dalamnya adalah saudara perempuan dari ibu ayahnya.
Keenam dan ketujuh: Anak perempuan dari saudara laki-laki dan saudara perempuan (keponakan).
Yang dimaksud di sini adalah anak perempuan dari saudara laki-laki atau saudara perempuannya, dan ini terus ke bawah.
[2] Mahrom muabbad karena ikatan perkawinan (mushoro’ah) ada empat wanita:
Pertama: Istri dari ayah.
Kedua: Ibu dari istri (ibu mertua). Ibu mertua ini menjadi mahrom selamanya (muabbad) dengan hanya sekedar akad nikah dengan anaknya (tanpa mesti anaknya disetubuhi), menurut mayoritas ulama. Yang termasuk di dalamnya adalah ibu dari ibu mertua dan ibu dari ayah mertua.
Ketiga: Anak perempuan dari istri (robibah). Ia bisa jadi mahrom dengan syarat si laki-laki telah menyetubuhi ibunya. Jika hanya sekedar akad dengan ibunya namun belum sempat disetubuhi, maka boleh menikahi anak perempuannya tadi. Yang termasuk mahrom juga adalah anak perempuan dari anak perempuan dari istri dan anak perempuan dari anak laki-laki dari istri.
Keempat: Istri dari anak laki-laki (menantu). Yang termasuk mahrom juga adalah istri dari anak persusuan.
[3] Mahrom muabbad karena persusuan (rodho’ah):
  1. Wanita yang menyusui dan ibunya.
  2. Anak perempuan dari wanita yang menyusui (saudara persusuan).
  3. Saudara perempuan dari wanita yang menyusui (bibi persusuan).
  4. Anak perempuan dari anak perempuan dari wanita yang menysusui (anak dari saudara persusuan).
  5. Ibu dari suami dari wanita yang menyusui.
  6. Saudara perempuan dari suami dari wanita yang menyusui.
  7. Anak perempuan dari anak laki-laki dari wanita yang menyusui (anak dari saudara persusuan).
  8. Anak perempuan dari suami dari wanita yang menyusui.
  9. Istri lain dari suami dari wanita yang menyesui.
Adapun jumlah persusuan yang menyebabkan mahrom adalah lima persusuan atau lebih. Inilah pendapat Imam Asy Syafi’i, pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, Ibnu Hazm, Atho’ dan Thowus. Pendapat ini juga adalah pendapat Aisyah, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Zubair.

Mahrom Muaqqot
Artinya, mahrom (dilarang dinikahi) yang sifatnya sementara. Wanita yang tidak boleh dinikahi sementara waktu ada delapan.
Pertama: Saudara perempuan dari istri (ipar).
Tidak boleh bagi seorang pria untuk menikahi saudara perempuan dari istrinya dalam satu waktu berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun jika istrinya meninggal dunia atau ditalak oleh si suami, maka setelah itu ia boleh menikahi saudara perempuan dari istrinya tadi.
Kedua: Bibi (dari jalur ayah atau ibu) dari istri.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا وَلاَ عَلَى خَالَتِهَا
Tidak boleh seorang wanita dimadu dengan bibi (dari ayah atau ibu) -nya.” (HR. Muslim no. 1408)
Namun jika istri telah dicerai atau meninggal dunia, maka laki-laki tersebut boleh menikahi bibinya.
Ketiga: Istri yang telah bersuami dan istri orang kafir jika ia masuk Islam.
Allah Ta’ala berfirman,
وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.” (QS. An Nisa’: 24)
Jika seorang wanita masuk Islam dan suaminya masih kafir (ahli kitab atau agama lainnya), maka keislaman wanita tersebut membuat ia langsung terpisah dengan suaminya yang kafir. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآَتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ
Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya.” (QS. Al Mumtahanah: 10)
Keempat: Wanita yang telah ditalak tiga, maka ia tidak boleh dinikahi oleh suaminya yang dulu sampai ia menjadi istri dari laki-laki lain.
Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ
Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.” (QS. Al Baqarah: 230)
Kelima: Wanita musyrik sampai ia masuk Islam.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ
Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al Baqarah: 221)
Yang dikecualikan di sini adalah seorang laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab. Ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Ta’ala,
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.” (QS. Al Maidah: 5)
Adapun wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki ahli kitab atau laki-laki kafir. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (QS. Al Mumtahanah: 10)
Keenam: Wanita pezina sampai ia bertaubat dan melakukan istibro’ (pembuktian kosongnya rahim).
Tidak boleh menikahi wanita pezina kecuali jika terpenuhi dua syarat:
(a) Wanita tersebut bertaubat.
Allah Ta’ala berfirman,
الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin” (QS. An Nur: 3)
Dengan taubat-lah yang akan menghilangkan status sebagai wanita pezina. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
Orang yang bertaubat dari suatu dosa seakan-akan ia tidak pernah berbuat dosa itu sama sekali.” (HR. Ibnu Majah no. 4250. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
(b) Istibro’ yaitu menunggu satu kali haidh atau sampai bayi dalam kandungannya lahir. Inilah pendapat Imam Ahmad dan Imam Malik. Inilah yang lebih tepat.
Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً
Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro’nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh.[2] (HR. Abu Daud no. 2157. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Ketujuh: Wanita yang sedang ihrom sampai ia tahallul.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكَحُ وَلاَ يَخْطُبُ
Orang yang sedang berihram tidak diperbolehkan untuk menikahkan, dinikahkan dan meminang.” (HR. Muslim no. 1409, dari ‘Utsman bin ‘Affan)
Kedelapan: Tidak boleh menikahi wanita kelima sedangkan masih memiliki istri yang keempat.
Allah Ta’ala berfirman,
فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ
Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat” (QS. An Nisa’: 3)
Bagi kaum muslimin dilarang menikahi lebih dari empat istri. Kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh menikahi lebih dari empat istri dan boleh menikah tanpa mahar.
Inilah pembahasan singkat mengenai mahrom. Semoga bermanfaat. 

Thaharoh

1. Definisi :

i) Dari segi bahasa : Suci dan bersih
ii) Dari segi istilah syarak : Suci dan bersih daripada najis atau hadas.

2. Taharah ialah anak kunci dan syarat sah salat.

3. Hukum taharah ialah WAJIB di atas tiap-tiap mukallaf lelaki dan perempuan.

4. Dalil naqli tentang suruhan bersuci adalah sebagaimana firman Allah s.w.t. dalam Surah al-Anfal, ayat 11 yang bermaksud :

" Dan (ingatlah ketika) Dia menurunkan kepada kamu hujan daripada langit untuk mensucikan kamu dengannya... "

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda yang bermaksud :

" Agama islam itu diasaskan di atas kebersihan "

5. Tujuan taharah ialah bagi membolehkan seseorang itu menunaikan solat dan ibadah-ibadah yang lain.

6. Hikmah disuruh melakukan taharah ialah kerana semua ibadah khusus yang kita lakukan itu adalah perbuatan mengadap dan menyembah Allah Ta'ala. Oleh itu untuk melakukannya, maka wajiblah berada di dalam keadaan suci sebagai mengagungkan kebesaran Allah s.w.t. .

7. Faedah melakukan taharah ialah supaya badan menjadi bersih, sihat dan terjauh daripada penyakit serta mendatangkan kegembiraan kepada orang yang melaksanakannya.

8. Syarat wajib taharah ialah :

    * Islam
    * Berakal
    * Baligh
    * Masuk waktu ( Untuk mendirikan solat fardhu ).
    * Tidak lupa
    * Tidak dipaksa
    * Berhenti darah haid dan nifas
    * Ada air atau debu tanah yang suci.
    * Berdaya melakukannya mengikut kemampuan.

9. Taharah adalah sebagai bukti bahawa Islam amat mementingkan kebersihan dan kesucian.

10. Ahli fiqh bersepakat mengatakan harus bersuci dengan air yang suci (mutlaq) sebagaimana firman Allah:

 

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Maksudnya :
"Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa khabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih "

11. Selain itu, harus menggunakan kertas atau batu ketika beristinja' dan tanah atau debu tanah sebagai ganti air bagi mengharuskan solat yang dikenali sebagai tayammum.

12. Jelasnya, alat–alat untuk bersuci itu ialah:

    * Air mutlaq, iaitu air semata-mata tanpa disertakan dengan sesuatu tambahan atau sesuatu sifat. Air mutlaq ini terbahagi kepada beberapa bahagian:
          o Air yang turun daripada langit. Ia terbahagi kepada tiga, iaitu air hujan, air salji yang menjadi cair dan air embun.
          o Air yang terbit daripada bumi. Ia terbahagi kepada empat, iaitu air yang terbit daripada mata air, air perigi, air sungai dan air laut.
    * Tanah, boleh menyucikan jika tidak digunakan untuk sesuatu fardhu dan tidak bercampur dengan sesuatu. Firman Allah:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu solat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan berjunub), terkecuali sekadar berlalu sahaja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau dalam bermusafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. ”
(Surah Al-Nisa’, 4:43)

3. Samak, iaitu membuang bahan-bahan lebihan yang melekat pada kulit dan yang merosakkannya sekira-kira jika direndam atau dibasuh dengan air sesudah disamak, maka kulit itu tetap tidak busuk atau rosak.

4. Takhallul, iaitu arak bertukar menjadi cuka tanpa dimasukkan sesuatu bahan ke dalamnya

 JENIS TAHARAH

Taharah terbahagi kepada 2 bahagian:

1. Taharah daripada najis

Najis dari hukum syara' ialah segala benda yang kotor yang mencegah   kita dari melakukan solat, tawaf,
memberi khutbah Juma'at dan  sebagainya.

Akan tetapi, ini tidak bermakna semua benda yang kotor itu adalah  najis TETAPI najis adalah kotor.

2. Taharah daripada hadas

Hadas pula terbahagi 2, hadas kecil dan hadas besar.

Berhadas kecil dikatakan sebagai perkara-perkara yang membatalkan wuduk dan boleh dihilangkan dengan sekadar mengambil wuduk.

Berhadas besar pula mencegah dari melakukan solat dsb dan ianya  mewajibkan seseorang itu mandi wajib.


 JENIS NAJIS

Di antara benda-benda yang najis adalah:

1. Arak dan segala cecair yang memabukkan.

2. Anjing dan khinzir. Ini termasuk semua binatang yang keluar dari keduanya atau salahs atu dari keduanya.

3. Bangkai      ~ ini adalah bangkai bagi haiwan yang mati tanpa sembelihan yang sah di sisi syara'.

                    ~ terdapat 3 jenis bangkai yang bukan najis:

                    a. bangkai manusia

                    b. bangkai ikan; dan

                    c. bangkai belalang

4. Darah, nanah, air luka, air bisul dan sebagainya.

                  ~ darah yang terlalu sedikit yang sukar untuk ditanggal seperti pada  tulang adalah dimaafkan.
                     Begitu juga benda-benda yang disebut tadi  yang terlalu sedikit adalah dimaafkan.

5. Muntah    ~ makanan atau minuman yang sudah sampai ke perut dan keluar  semula sekalipun ianya hanya berupa air. 

6. Tahi dan air kencing manusia dan semua jenis binatang (samada yang halal atau pun yang haram)

7. Bahagian pada binatang yang tercerai atau terpotong daripada haiwan   itu ketika ia nya masih hidup.

8. Susu haiwan yang haram dimakan dagingnya; cth: keldai

9. Air mazi dan wadi

10. Air liur basi.  ~ Ianya adalah haram sekiranya diyakini ia keluar dari perut


 JENIS-JENIS HADAS

Terbahagi kepada 2 bahagian;

1. HADAS KECIL

    ~ perkara-perkara yang wujudnya pada anggota wudu'; wajah, dua tangan, kepala dan dua kaki dan menjadi tidak sah solat.

    ~ Dinamakan juga sebagai hadas kecil kerana perkara haram yang dilakukan oleh orang berhadas kecil adalah sedikit dan
       hanya pada 4 anggota wudu' sahaja..

    ~ Boleh dihilangkan dengan mengambil wudu'

2. HADAS BESAR

    ~ mengikut syara', apabila wujudnya hadas besar pada seluruh tubuh, ia mencegah sahnya solat dan ibadah lainnya.

    ~ Dinamakan sebagai hadas besar kerana banyak perkara haram dilakukanolehorang berhadas besar dan ianya
       menyeliputi seluruh  anggota

    ~ Berhadas besar ini boleh dihilangkan dengan mandi wajib.


 JENIS AIR

Air digunakan untuk bersuci. Mensucikandiri kita dari najis dan kotoran. Jenis-jenis air ini boleh dikategorikan kepada 4 bahagian,
mengikut taraf kesucian air tersebut.


1. Suci lagi menyucikan dikenali sebagai air mutlak.


    Ia bermaksud air yang belum digunakan untuk membasuh anggota yang wajib  pada kali  pertama dengan sempurna.

   contoh : basuhan pertama pada muka ketika berwuduk, air basuhan itu bukan lagi mutlak tetapi dipanggil air musta'mal.

7 jenis air mutlak adalah : air hujan, air laut (air masin), air  sungai (air tawar), air perigi, mata air, air salji dan air embun.

Air ini boleh dibuat bersuci dan meghilangkan najis dan boleh digunakan  untuk adat (seperti minum, mandi dsb)


2. Suci lagi menyucikan tetapi makruh digunakan.

Hukum air ini sama seperti air mutlak tetapi ianya makruh digunakan.

8 contoh air dalam kategori ini:

   a) Air yang terlalu panas

   b) Air yang terlalu sejuk

       ~ air (a) & (b) adalah makruh diguakan untuk taharah kerana dikhuatiri ketika menggunakannya cucian atau mandian
          akan menjai tidak   sempurna atau tidak rata.

       ~ sekiranya sesorang itu berasa dia akan dimudaarati dengan  menggunakan air-air tersebut, maka haram menggunakannya.

   c) Air atau tanah yang penduduknya dimurkai Allah Taala.

       cth: Air di negeri kaum Luth a.s. dimana mereka telah melakukan   perbuatan 'liwat, lalu dibalakanoleh Allah Taala.

   d) Air musyammash

       ~ iaitu air yang berjemur atau terjemur pada matahari.

   e) Air Mustakmal

       ~ Air yang telah digunakan untuk bersuci yang wajib.

   f) Air Mutannajis

       ~ Air yang telah bercampur dengan najis.


3. Suci Tapi Tidak Menyucikan .

Air yang asalnya adalah air mutlak tetapi telah bercampur dengan  benda-benda lain yang suci dan tidak dapat dielakkan darinya,
bahkan  bertukar rasa, bau dan warna.

    contoh:   air kopi, kuah, air teh dsb

Hukum air ini adalah suci tapi tidak menyucikan. Boleh digunakan untuk   adat seperti memasak, minum, dsb.


4.  Air Mutannajis : Iaitu air yang telah bercampur dengan najis. Terdapat 2 bahagian:

a) air yang kurang 2 kolah

    ~ apabila bercampur dengan najis yang tidak dimaafkan, ia adalah tidak  suci dan tidak menyucikan sekalipun tidak berubah bau,
       rasa dan   warnanya.

    ~ sekiranya dimasuki najis yang dimaafkan seperti bangkai semut, kala   jengking, cicak dan sebagainya
       (ie: binatang yang tidak mengalir  darahnya setelah mati), air tersebut tetap suci selama tidak berubah warna, bau dan mahupun rasanya.

b) air yang sampai 2 kolah atau lebih

    ~ Jika dimasuki najis yang tidak dimaafkan, ia masih suci selama ia tidak   berubah bau, rasa dan warnanya.

Air ini adalah tidak suci lagi tidak menyucikan