Entri Populer

Selasa, 30 April 2013

perowi terbanyak

Sahabat Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم yang paling banyak meriwayatkan hadits ialah:
Abu Hurairah 5374 hadits, Ibnu Umar 2630 hadits, Anas bin Malik 2286 hadits, Aisyah 2210 hadits, Ibnu ‘Abbas 1660 hadits, Jabir bin ‘Abdullah 1540 hadits, Abu Sa'id Al-Khudri 1170 hadist, Ibnu Mas'ud 848 hadits, Ibnu 'Amr bin Ash 700 hadits, Abu Dzarr Al- Ghifari 281 hadits, Abu Darda' 179 hadits (Talqih fahum ahli al-atsar karya Ibn Jauzi)
Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” (Hadits Bukhari & Muslim)
Imam Malik رحمه الله telah berkata : كُلُّ خَيْرٍ فِي إتِباَعِ مَنْ سَلَف وَ كُلُّ شَرٍّ فِي إبْتِداَعِ مَنْ خَلَفِ
“Setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu (salaf), dan setiap kejelekan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian (kholaf)" dan “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali kembali berdasarkan perbaikan yang dilakukan oleh generasi pertama”.

Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم bersabda
“Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang tampil membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka sehingga datang (hari Kiamat) ketetapan Allah, sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Hadits Muslim)

Ahlul Bait Rosulullah S A W

Keluarga Rasulullah

صلى ا لله عليه وسلم
Istri- istri Nabi زوجات النبي
Cucu Nabi
Paman Nabi

Ulama salaf Ahli Hadist

1.. Khalifah ar-Rasyidin :

  • • Abu Bakr Ash-Shiddiq
  • • Umar bin Al-Khaththab
  • • Utsman bin Affan
  • • Ali bin Abi Thalib
  • 2. Al-Abadillah : Para Sahabat
  • • Ibnu Umar
  • • Ibnu Abbas
  • • Ibnu Az-Zubair
  • • Ibnu Amr
  • • Ibnu Mas’ud
  • • Aisyah binti Abubakar
  • • Ummu Salamah
  • • Zainab bint Jahsy
  • • Anas bin Malik
  • • Zaid bin Tsabit
  • • Abu Hurairah
  • • Jabir bin Abdillah
  • • Abu Sa’id Al-Khudri
  • • Mu’adz bin Jabal
  • • Abu Dzarr al-Ghifari
  • • Sa’ad bin Abi Waqqash
  • • Abu Darda’
  • 3. Para Tabi’in :
  • • Sa’id bin Al-Musayyab wafat 90 H
  • • Urwah bin Zubair wafat 99 H
  • • Sa’id bin Jubair wafat 95 H
  • • Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H
  • • Muhammad bin Al-Hanafiyah wafat 80 H
  • • Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud wafat 94 H
  • • Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H
  • • Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq
  • • Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H
  • • Muhammad bin Sirin wafat 110 H
  • • Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H
  • • Nafi’ bin Hurmuz wafat 117 H
  • • Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H
  • • Ikrimah wafat 105 H
  • • Asy Sya’by wafat 104 H
  • • Ibrahim an-Nakha’iy wafat 96 H
  • • Aqamah wafat 62 H
  • 4. Para Tabi’ut tabi’in :
  • • Malik bin Anas wafat 179 H
  • • Al-Auza’i wafat 157 H
  • • Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H
  • • Sufyan bin Uyainah wafat 193 H
  • • Al-Laits bin Sa’ad wafat 175 H
  • • Syu’bah ibn A-Hajjaj wafat 160 H
  • • Abu Hanifah An-Nu’man wafat 150 H
  • 5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Setelah para tabi’ut tabi’in:
  • • Abdullah bin Al-Mubarak wafat 181 H
  • • Waki’ bin Al-Jarrah wafat 197 H
  • • Abdurrahman bin Mahdy wafat 198 H
  • • Yahya bin Sa’id Al-Qaththan wafat 198 H
  • • Imam Syafi’i wafat 204 H
  • 6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :
  • • Ahmad bin Hambal wafat 241 H
  • • Yahya bin Ma’in wafat 233 H
  • • Ali bin Al-Madini wafat 234 H
  • • Abu Bakar bin Abi Syaibah Wafat 235 H
  • • Ibnu Rahawaih Wafat 238 H
  • • Ibnu Qutaibah Wafat 236 H
  • 7. Kemudian murid-muridnya seperti:
  • • Al-Bukhari wafat 256 H
  • • Muslim wafat 271 H
  • • Ibnu Majah wafat 273 H
  • • Abu Hatim wafat 277 H
  • • Abu Zur’ah wafat 264 H
  • • Abu Dawud : wafat 275 H
  • • At-Tirmidzi wafat 279
  • • An Nasa’i wafat 234 H
  • 8. Generasi berikutnya : orang-orang generasi berikutnya yang berjalan di jalan mereka adalah:
  • • Ibnu Jarir ath Thabary wafat 310 H
  • • Ibnu Khuzaimah wafat 311 H
  • • Muhammad Ibn Sa’ad wafat 230 H
  • • Ad-Daruquthni wafat 385 H
  • • Ath-Thahawi wafat 321 H
  • • Al-Ajurri wafat 360 H
  • • Ibnu Hibban wafat 342 H
  • • Ath Thabarany wafat 360 H
  • • Al-Hakim An-Naisaburi wafat 405 H
  • • Al-Lalika’i wafat 416 H
  • • Al-Baihaqi wafat 458 H
  • • Al-Khathib Al-Baghdadi wafat 463 H
  • • Ibnu Qudamah Al Maqdisi wafat 620 H
  • 9. Murid-Murid Mereka :
  • • Ibnu Daqiq Al-led wafat 702 H
  • • Ibnu Taimiyah wafat 728 H
  • • Al-Mizzi wafat 742 H
  • • Imam Adz-Dzahabi (wafat 748 H)
  • • Imam Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H)
  • • Ibnu Katsir wafat 774 H
  • • Asy-Syathibi wafat 790 H
  • • Ibnu Rajab wafat 795 H
  • 10. Ulama Generasi Akhir :
  • • Ash-Shan’ani wafat 1182 H
  • • Muhammad bin Abdul Wahhab wafat 1206 H
  • • Muhammad Shiddiq Hasan Khan wafat 1307 H
  • • Al-Mubarakfuri wafat 1427 H
  • • Abdurrahman As-Sa`di wafat 1367 H
  • • Ahmad Syakir wafat 1377 H
  • • Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh wafat 1389 H
  • • Muhammad Amin Asy-Syinqithi wafat 1393 H
  • • Muhammad Nashiruddin Al-Albani wafat 1420 H
  • • Abdul Aziz bin Abdillah Baz wafat 1420 H
  • • Hammad Al-Anshari wafat 1418 H
  • • Hamud At-Tuwaijiri wafat 1413 H
  • • Muhammad Al-Jami wafat 1416 H
  • • Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin wafat 1423 H
  • • Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i wafat 1423 H
  • • Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah
  • • Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah
  • • Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah
  • Sumber: Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama dengan sedikit tambahan: Dikutip dari http://ahlulhadist.wordpress.com

    Keajaiban Surah Al-fatehah

    .: Media Cyber :. Surat Al-Fatihah yang disertakan terjemahan dan juga saya serta beberapa ke ajaiban daripada huruf-huruf yang terkandung di dalam nya, silahakan anda baca sebagai berikut :

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ 
    "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 
    "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam".

    الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ 
    "Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".

    مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ 
    "Yang menguasai di Hari Pembalasan".

     إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 
    "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan".

    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ 
    "Tunjukilah kami jalan yang lurus",

    صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
    "(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat".
    “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.” (al-Hijr : 87)



    "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam) (surat al-Fatihah) adalah as-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang di baca berulang-ulang) dan al-Quran yang Agung yang diberikan kepadaku.”  
    (Hadits Riyawat al-Bukhari)





    Adapun Rahasia atau Keajaiban surat Al- Fatihah Sebagai berikut :

    Keajaiban Pertama : Jumlah ayat dalam surat al-Fatihah ada tujuh ayat,
    1. Jumlah langit ada tujuh. Jumlah bumi ada tujuh. 
    2. Jumlah hari dalam seminggu ada tujuh hari. 
    3. Jumlah putaran yang dilakukan oleh seseorang yang melakukan thawaf mengelilingi ka’bah adalah tujuh putaran. Sa’i (berlari-lari kecil) antara Shafa dan Marwa dilakukan sebanyak tujuh kali.
    4. Melempar jumrah dilakukan oleh orang yang sedang melaksanakan ibadah haji sebanyak tujuh kali. 
    5. Anggota tubuh yang diperintahkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk di tempelkan ke tanah ketika sujud ada tujuh anggota tubuh. 
    6. Jumlah pintu jahannam ada tujuh buah. Kata “jahannam” disebutkan dalam al-Quran sebanyak 77 kali (77=7x11). 


    Keajaiban ke Dua : Jumlah huruf hijahiyah yang ada dalam surat al-Fatihah ada 21 huruf (21=7x3). Huruf tersebut adalah:
    ا ب ت ح د ذ رس ص ض ط ع غ ق ك ل م ن و ه ي

    Keajaiban ke Tiga : Jumlah huruf yang terputus-putus yang ada dalam al-Quran ada 14 huruf (14=7x2). Huruf huruf itu termasuk dalam huruf-huruf yang ada dalam surat al-Fatihah. Huruf-huruf tersebut adalah :
    ا ل م ن ه ك س ي ع ص ر ق ح ط

    Keajaiban ke Empat : Jumlah huruf dari kalimat الله yaitu ا, ل, dan ه yang ada dalam surat al-Fatihah ada :
    49 huruf (49=7x7)

    Keajaiban ke Lima : Huruf yang terputus-putus yang pertama kali disebutkan dalam al-Quran adalah firman Allah الم yang merupakan ayat pertama dalam surat al-Baqarah. Jika kita menghitung jumlah ketiga huruf tersebut (ا, ل, dan م) dalam surat al-Fatihah, akan kita dapati bahwa huruf ا ada 22 buah, huruf ل ada 22 buah dan huruf م ada 15 buah.
    Apabila kita menggandengkan jumlah ketiga huruf di atas maka akan terbentuk bilangan 222215 atau kalau kita membalik susunannya akan terbentuk bilangan 152222 dan 221522.
    Dan ajaibnya, ketiga bilangan tersebut merupakan kelipatan dari angka tujuh.
    (222215=7x31745, 152222=21746, 221522=7x31646)

    Keajaiban Ke enam :  Jumlah huruf yang berharokat syiddah ( ّ ) ada 14 huruf. (14=7x2)


    Keajaiban ke tujuh :  Urutan huruf hijaiyah dalam ayat pertama surat al-Fatihah berdasarkan jumlahnya secara berurutan dari yang terkecil ke yang terbesar adalah sebagai berikut :
    Huruf هـ : 1 buah. Huruf ي : 1 buah. Huruf ن : 1 buah. Huruf س : 1 buah. Huruf ب : 1 buah.
    Huruf ح : 2 buah. Huruf ر : 2 buah.
    Huruf ا : 3 buah. Huruf م : 3 buah.
    Huruf ل : 4 buah. 
    Jika kita menggandengkan angka-angka di atas akan terbentuk bilangan :  
    1111122334. (1111122334=7x158731762) 

    Keajiaban ke delapan :  Urutan huruf hijaiyah dalam surat al-Fatihah berdasarkan jumlahnya secara berurutan dari yang terkecil ke yang terbesar adalah sebagai berikut :
    Huruf ذ :  1 buah. Huruf ق : 1 buah.
    Huruf ض :  2 buah. Huruf غ : 2 buah. Huruf ط : 2 buah. Huruf ص : 2 buah.
    Huruf ت :  3 buah. Huruf ك : 3 buah. Huruf س : 3 buah.
    Huruf و :  4 buah. Huruf د : 4 buah. Huruf ب : 4 buah.
    Huruf ح :   5 buah. Huruf هـ : 5 buah.
    Huruf ع :  6 buah.
    Huruf ر :  8 buah.
    Huruf ن : 11 buah.
    Huruf ي : 14 buah.
    Huruf م : 15 buah.
    Huruf ل : 22 buah.
    Huruf ا : 22 buah.
    Jika kita menggandengkan angka-angka di atas akan terbentuk bilangan :
    11222233344455681114152222. (11222233344455681114152222=7x1603176192065097302021746)
    Hanya itu yang bisa saya himpun dari beberapa sumber atau referensi, semoga bermanfaat... antara lain sebagai berikut :
    http://www.jadilah.com/2012/07/bacaan-surat-al-fatihah.html
    http://www.jurnalhajiumroh.com/post/dunia-islam/surat-al-fatihah-keajaiban-angka-tujuh-1

    Contoh nash dalam alquran

    Nasikh adalah penghapusan lafazh atau hukum suatu nash syara’, sedangkan mansukh adalah nash syara’ yang dihapus lafazh atau hukumya.

    Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 106 :
    “Apa saja ayat-ayat yang kami nasakh, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya, atau kami datangkan yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

    Macam-macam naskh dalam Al-Qur’an :

    1. Naskh lafaz dan hukum.
    Riwayat Ismail bin Ahmad dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif, bahwa telah ada sekelompok orang sahabat Nabi yang memberitahu dia tentang seorang laki-laki diantara mereka yang tidak tidur pada tengah malam. Dia bermaksud untuk membuka catatan sebuah surah yang sebelumnya dia hafal. Ternyata dia tidak menjumpai tulisan surah itu kecuali hanya tulisan “Bismillahirrahmanirrahim”. Maka pada keesokan harinya dia datang ke rumah Nabi untuk menanyakan hal tersebut. Ternyata ada juga beberapa orang yang datang kepada Nabi sehingga mereka berkumpul menjadi beberapa orang. Mereka saling menanyakan antara yang satu dengan yang lain. Mereka juga saling menceritakan pengalaman yang dialami masing-masing tentang tulisan surat yang tiba-tiba hilang. Beberapa saat kemudian Nabi menerima mereka dan mendengarkan penuturan mereka. Kemudian Nabi terdiam sejenak, setelah itu beliau bersabda : “Tadi malam surat tersebut telah di nasakh. Maka hafalan surah itupun dinasakh dari dada mereka (yang telah hafal) dan juga dari benda apapun yang mengabadikan rasm (tulisan) surah tersebut”.

    Riwayat dari Ibnu Mas’ud : “Telah diturunkan sebuah ayat Al-Qur’an kepada Rasulullah saw. sehingga saya mencatatnya didalam mushafku. Namun pada suatu malam ternyata permukaan mushaf itu hanya berwarna putih (hilang tulisannya), maka saya menceritakan hal tersebut kepada Nabi, ternyata beliau bersabda : “Tidakkah kamu tahu bahwa ayat tersebut telah diangkat (dinasakh) tadi malam”.

    Muslim meriwayatkan dari Aisyah : “Diantara yang diturunkan kepada beliau (Nabi) adalah ‘sepuluh susuan yang maklum itu menyebabkan muhrim”. Lafazh Ayat tersebut telah dinasakh dengan ayat “Lima susuan yang maklum”. Jadi lafazh ‘Sepuluh susuan’ telah dinasakh dengan ayat lain yang ber lafazh ‘Lima susuan’. Demikian juga hukum lima susuan telah menasakh hukum sepuluh susuan yang menyebabkan menjadi muhrim.

    2. Naskh lafaz sedang hukumnya tetap.

    Yaitu lafazh ayat dihapus dari mushaf, tapi hukumnya tetap berlaku. Contohnya tentang hukum rajam bagi pezina muhson.

    Riwayat dari Said bin Al-Musayyab : “bahwa Umar bin Khattab telah berkata : “…Mengenai ayat tentang rajam, maka janganlah sampai kalian tidak mengetahuinya, karena sesungguhnya Rasulullah saw. telah menerapkan hukuman rajam, begitu juga dengan kami, kami telah mempraktekkannya. Ayat tentang rajam itu benar-benar telah diturunkan. Ayat rajam yang kami baca, “Orang tua laki-laki dan orang tua perempuan (maksudnya yang sudah menikah) jika sampai melakukan perbuatan zina, maka rajamlah keduanya dengan pasti”. Kalau bukan karena khawatir orang-orang akan mengatakan Umar telah menambahkan sebuah ayat dalam kitab Allah, pasti saya telah menulis ayat itu dengan tanganku sendiri (dalam mushaf Al-Qur’an)””.

    3. Naskh hukum sedang lafaznya tetap.
    Yaitu lafazh ayat yang dihapus (mansukh) masih tetap ada dalam mushaf, tapi hukumnya telah dihapus oleh ayat yang menghapusnya (nasikh). Ulama terdahulu (abad 1 s.d. 3 H) memperluas konsep nasakh hingga mencakup hal hal :
    a. Penghapusan hukum yang ditetapkan terdahulu oleh hukum yang ditetapkan kemudian.
    b. Pengecualian (taksish) hukum yang bersifat umum oleh hukum yang meng khususkannya.
    c. Penjelasan yang datang kemudian terhadap hukum yang samar.
    d. Penetapan syarat terhadap hukum terdahulu yang belum bersyarat.

    Ulama Mutaakhkhirin mempersempit pengertian nasakh hanya bila meghapuskan hukum yang terdahulu atau telah berakhirnya masa berlaku hukum yang terdahulu sehingga ketentuan yang berlaku adalah hukum yang ditetapkan terakhir. Para ulama masih memperselisihkan adakah ayat Al-Qur’an yang dinasakh hukumnya sedangkan lafazhnya masih ada dalam mushaf. Sebagian berpendapat tidak ada, yaitu : Abu Muslim al-Ashfani, Fakhruddin ar Razi, Muhammad Abduh, dll. Kelompok yang menolak adanya nasakh hukum, mereka menta’wilkan kata “ayat” dalam QS Al-baqarah : 106 dengan “mukjizat” jadi yang di nasakh adalah mukjizat bukan ayat Al-Qur’an.

    Adapun kelompok yang menetapkan adanya nasakh, menafsirkan kata “ayat” dengan zahirnya, diantaranya Imam Syafi’i, Imam Syaukani dan As-Suyuthi. Mengenai ayat-ayat yang dinasakh, kelompok yang menetapkan adanya nasakh juga berbeda pendapat. As-Suyuthi menyebutkan ada 21 ayat Al-Qur’an yang dinasakh.

    Pembagian Naskh
    1. Naskh Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Semua ulama sepakat kebolehannya, bagi yang menetapkan adanya naskh
    2. Naskh Al-Qur’an dengan hadits
    a. Naskh Al-Qur’an dengan hadits mutawatir.
    Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad membolehkannya.
    b. Naskh Al- dengan hadits Qur’an ahad.
    Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan jumhur ulama tidak membolehkan, berdasarkan ayat “Apa saja yang kami nasakh kan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya” (QS Al-Baqarah [2] : 106).
    3. Naskh hadits dengan Al-Qur’an
    Jumhur ulama sepakat membolehkan, contoh Arah kiblat ke Baitul Maqdis yang ditetapkan dalam sunah dinasakh oleh ayat Al-Qur’an, QS Al-Baqarah [2] : 144 : “Maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram”
    4. Naskh hadits dengan hadits
    a. Naskh hadits mutawatir dengan hadits mutawatir
    b. Naskh hadits ahad dengan hadits ahad
    c. Naskh hadits ahad dengan hadits mutawatir
    d. Naskh hadits mutawatir dengan hadits ahad
    Tiga bentuk pertama dibolehkan, sedang bentuk ke-empat diperselisihkan.
    5. Naskh berpengganti dan tidak berpengganti
    a. Nasakh tanpa pengganti, contoh :
    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu” (QS Al-Mujadalah [58] : 12).
    Ketentuan ini dinasakh oleh ayat :
    “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul ? Maka jika kamu tidak memperbuatnya – dan Allah telah memberi taubat kepadamu – maka dirikanlah shalat, tunaikan zakat”. (QS Al-Mujadalah [58] : 13).
    b. Nasakh dengan badal akhtaff, misalnya firman Allah :
    “Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu … “ (QS Al-Baqarah [2] : 187).
    Ayat ini menghapus firman Allah :
    “…sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu …” (QS Al-Baqarah [2] : 183).
    Karena maksud ayat QS Al-Baqarah [2] : 183 adalah agar puasa kita seperti ketentuan puasa orang-orang terdahulu, yaitu dilarang bercampur dengan istri apabila mereka telah mengerjakan shalat petang atau telah tidur.
    c. Nasakh dengan badal mumasil, misalnya penghapusan arah Kiblat ke Baitul Makdis menjadi menghadap ke Masjidil Haram.
    “Maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram..” (QS Al-Baqarah [2] : 144).
    d. Nasakh dengan badal asqal, seperi penghapusan hukuman penahanan rumah, dalam ayat :
    “Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, datangkanlah empat orang saksi dari pihak kamu (untuk menjadi saksi). Kemudian apabila mereka telah memberi kesaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai meninggal…” (QS An-Nisa’ [4] : 15).
    Ayat tersebut dinasakh dengan ayat tentang hukuman rajam bagi pezina muhson (sudah pernah menikah) atau dera seratus kali bagi pezina yang belum pernah menikah.

    Contoh-contoh naskh.
    As-Suyuthi menyebutkan dalam Al-Itqan sebanyak dua puluh satu ayat, diantaranya :
    1. QS Al-Baqarah [2] : 144 : “Maka palingkanlah mukamu kearah Masjidil Haram”
    Ayat ini menasakh arah kiblat ke Baitul Maqdis yang ditetapkan dalam sunnah.
    2. QS Al-Baqarah [2] : 180 : “Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya …”
    Kewajiban berwasiat dalam ayat ini dinasakh oleh ayat tentang hukum waris dan diperkuat oleh hadits. “Sesungghuhnya Allah telah memberikan kepada setiap orang yang mempunyai hak akan warisnya, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris”
    3. QS Al-Baqarah [2] : 284 : “Jika kamu melahirkan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.”.
    Ayat ini meng isyaratkan Allah akan membuat perhitungan terhadap perbuatan dan lintasan hati manusia. Namun pertanggungjawaban lintasan hati ini dinasakh oleh QS Al-Baqarah [2] : 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
    4. QS Al-Anfal [8] : 65 : “Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh…”
    Ayat ini melarang kaum muslimin mundur dari peperangan bila jumlah musuh kurang dari sepuluh kali lipat, namun ayat ini di nasakh dengan QS Al-Anfal [8] : 66 :
    “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantara kamu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang”. Ayat ini membolehkan kaum muslimin mundur dari peperangan bila jumlah musuh lebih dari dua kali lipat.

    Namun kelompok yang tidak mengakui adanya nask hukum dalam mushaf Al-Qur’an tetap memberikan argumentasi bahwa ayat-ayat tersebut bukan nasakh, melainkan hanya mentahsis atau bisa dikompromikan atau berlaku menurut masa tertentu atau punya sebab berbeda sehingga hukumnya berbeda.

    Hikmah adanya Nasakh :
    1. Memelihara kepentingan kaum muslimin.
    2. Perkembangan tasyri menuju tingkat kesempurnaan sesuai dengan perkembangan dakwah dan perkembangan kondisi umat manusia.
    3. Cobaan dan ujian bagi mukallaf, yaitu apakah mengikuti (mempelajarinya) ataukah tidak.
    4. Menghendaki kebaikan bagi umat. Jika nasakh beralih ke hal yang lebih berat maka didalamnya terdapat tambahan pahala, dan jika beralih ke yang lebih ringan maka mengandung kemudahan dan keringanan.

    Reference :
    1. Studi ilmu-ilmu Al-Qur’an, author : Manna Khlail al-Qattan. Publisher : Lintera Antar Nusa.
    2. Al-Qur’an dan ulumul Qur’an, author : Drs. Muhammad Chirzin, M.Ag. Publisher : Dana Bhakti Prima Yasa.
    3. Al-Qur’an sumber hukum Islam yang pertama, author : Drs. Miftah Faridl & Drs. Agus Syihabudin. Publisher : Pustaka.
    4. Ulumul Qur’an Praktis, author : Drs. Hafidz Abdurrahman, MA. Publisher : Idea Pustaka.

    Matematis dalam Alquran

    Mengenal Al-quran - Mengenal Al-quran
    Keajaiban Matematika dalam Al-quran


    Keajaiban Al Quran dilihat dari sisi kandungannya telah banyak ditulis dan diketahui, tetapi keajaiban dilihat dari bagaimana Al Quran ditulis/disusun mungkin belum banyak yang mengetahui. Orang-orang non-muslim khususnya kaum orientalis barat sering menuduh bahwa Al Qur’an adalah buatan Muhammad. Padahal kalau kita baca Al Qur’an ada ayat yang menyatakan tantangan kepada orang-orang kafir khususnya untuk membuat buku/kitab seperti Al Quran dimana hal ini tidak mungkin akan dapat dilakukannya meskipun jin dan manusia bersatu padu membuatnya. Tulisan singkat ini bertujuan untuk menyajikan beberapa keajaiban Al Qur’an dilihat dari segi bagaimana Al Qur’an ditulis, dan sekaligus secara tidak langsung juga untuk menyangkal tuduhan tersebut, dimana Muhammad sebagai manusia biasa tidak mungkin dapat melakukan atau menciptakan sebuah Al Qur’an. Pandangan sains secara konvensional menempatkan matematika sebagai suatu yang prinsipil dari sebuah cabang pengetahuan dimana alasan dikedepankan, emosi tidak dilibatkan, kepastian menjadi hal yang ingin diketahui, dan kebenaran hari ini merupakan kebenaran untuk selamanya. Dalam masalah agama, ilmuan memandang bahwa semua agama sama, karena semua agama sama-sama tidak mampu memverifikasi atau menjustifikasi kebenaran melalui pembuktian yang dapat diterima oleh logika. Jadi suatu hal dikatakan valid jika ada bukti nyata, dan pembuktian ini merupakan sebuah prosedur yang dibentuk untuk membuktikan suatu realitas yang tak terlihat melalui sebuah proses deduksi dan konklusi yang hasil akhirnya dapat diterima oleh semua pihak. Dengan dasar tersebut, tulisan ini mencoba untuk membawa pembaca pada suatu kesimpulan bahwa Al Qur’an yang ditulis menurut aturan matematika, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an adalah benar-benar firman Allah dan bukan buatan Nabi Muhammad. Kiranya patut juga direnungi apa yang dikatakan oleh Galileo (1564-1642 AD) bahwa . “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini)” ada benarnya. Kebenaran bahasa matematika tersebut akan dibahas sekilas sebagai tambahan dari tema utama tulisan ini.

    Angka-angka Menakjubkan dari Beberapa Kata dalam Al Qur’an

    Kalau kita buka Al Quran dan kita perhatikan beberapa kata dalam Al Quran dan menghitung berapa kali kata tersebut disebutkan dalam Al Quran, kita akan peroleh suatu hal yang sangat menakjubkan. Mungkin kita betanya, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencari dan menghitungnya. Dengan kemajuan teknologi khususnya komputer, hal tersebut tidak menjadi masalah. Tabel 1 menyajikan frekuensi penyebutan beberapa kata penting dalam Al Qur’an yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan tabel tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Misalnya pada kata “dunya” dan “akhirat” yang disebutkan dalam Al Qur’an dengan frekuensi sama, kita dapat menafsirkan bahwa Allah menyuruh umat manusia untuk memperhatikan baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat secara seimbang. Artinya kehidupan dunia dan akhirat sama-sama penting bagi orang Islam. Selanjutnya pada penyebutan kata “malaaikat” dan “syayaathiin” juga disebutkan secara seimbang. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kebaikan yang direfleksikan oleh kata “malaaikah” akan selalu diimbangi oleh adanya kejahatan yang direfleksikan oleh kata “syayaathiin”. Hal lain juga dapat kita kaji pada beberapa pasangan kata yang lain.

    Tabel 1. Jumlah Penyebutan beberapa Kata Penting dalam Al Quran

    Sumber: From the Numeric Miracles In the Holy Qur’an by Suwaidan, www.islamicity.org


    Beberapa kata lain yang menarik dari tabel tersebut adalah kata “syahr (bulan)” yang disebutkan sebanyak 12 kali yang menunjukkan bahwa jumlah bulan dalam setahun adalah 12, dan kata “yaum (hari)” yang disebutkan sebanyak 365 kali yang menunjukkan jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari. Selanjutnya Kata “lautan (perairan)” disebutkan sebanyak 32 kali, dan kata “daratan” disebut dalam Al Quran sebanyak 13 kali. Jika kedua bilangan tersebut kita tambahkan kita dapatkan angka 45.


    Sekarang kita lakukan perhitungan berikut:

    · Dengan mencari persentase jumlah kata “bahr (lautan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
    (32/45)x100% = 71.11111111111%

    · Dengan mencari persentase jumlah kata “barr (daratan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
    (13/45)x100% = 28.88888888889%

    Kita akan mendapatkan bahwa Allah SWT dalam Al Quran 14 abad yang lalu menyatakan bahwa persentase air di bumi adalah 71.11111111111%, dan persentase daratan adalah 28.88888888889%, dan ini adalah rasio yang riil dari air dan daratan di bumi ini.

    Al Qur’an Didisain Berdasarkan Bilangan 19

    Dalam kaitannya dengan pertanyaan yang bersifat matematis yang hanya memiliki satu jawaban pasti, maka jika ada beberapa ahli matematika, yang menjawab di waktu dan tempat yang berbeda dan dengan menggunakan metode yang berbeda, maka tentunya akan memperoleh jawaban yang sama. Dengan kata lain, pembuktian secara matematis tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Perlu diketahui bahwa dari seluruh kitab suci yang ada di dunia ini, Al Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang seluruhnya ditulis dalam bahasa aslinya. Berkaitan dengan pembuktian, kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah yang sering dikatakan oleh orang barat sebagai ciptaan Muhammad, dapat dibuktikan secara matematis bahwa Al Qur’an tidak mungkin diciptakan oleh Muhammad. Adalah seorang ahli biokimia berkebangsaan Amerika keturunan Mesir dan seorang ilmuan muslim, Dr. Rashad Khalifa yang pertama kali menemukan sistem matematika pada desain Al Qur’an. Dia memulai meneliti komposisi matematik dari Al Quran pada 1968, dan memasukkan Al Qur’an ke dalam sistem komputer pada 1969 dan 1970, yang diteruskan dengan menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Inggris pada awal 70-an. Dia tertantang untuk memperoleh jawaban untuk menjelaskan tentang inisial pada beberapa surat dalam Al Qur’an (seperti Alif Lam Mim) yang sering diberi penjelasan hanya dengan “hanya Allah yang mengetahui maknanya”. Dengan tantangan ini, dia memulai riset secara mendalam pada inisial-inisial tersebut setelah memasukkan teks Al Qur’an ke dalam sistem komputer, dengan tujuan utama mencari pola matematis yang mungkin akan menjelaskan pentingnya inisial-inisial tersebut. Setelah beberapa tahun melakukan riset, Dr. Khalifa mempublikasikan temuan-temuan pertamanya dalam sebuah buku berjudul “MIRACLE OF THE QURAN: Significance of the Mysterious Aphabets” pada Oktober 1973 bertepatan dengan Ramadan 1393. Pada buku tersebut hanya melaporkan bahwa inisial-inisial yang ada pada beberapa surat pada Al Qur’an memiliki jumlah huruf terbanyak (proporsi tertinggi) pada masing-masing suratnya, dibandingkan huruf-huruf lain. Misalnya, Surat “Qaaf” (S No. 50) yang dimulai dengan inisial “Qaaf” mengandung huruf “Qaaf” dengan jumlah terbanyak. Surat “Shaad” (QS No. 38) yang memiliki inisial “Shaad”, mengandung huruf “Shaad” dengan proporsi terbesar. Fenomena ini benar untuk semua surat yang berinisial, kecuali Surat Yaa Siin (No. 36), yang menunjukkan kebalikannya yaitu huruf “Yaa” dan “Siin” memiliki proporsi terendah. Berdasarkan temuan tersebut, pada awalnya dia hanya berfikir sampai sebatas temuan tersebut mengenai inisial pada Al Qur’an, tanpa menghubungkan frekuensi munculnya huruf-huruf yang ada pada inisial surat dengan sebuah bilangan pembagi secara umum (common denominator). Akhirnya, pada Januari 1974 (bertepatan dengan Zul-Hijjah 1393), dia menemukan bahwa bilangan 19 sebagai bilangan pembagi secara umum[1] dalam insial-inisial tersebut dan seluruh penulisan dalam Al Qur’an, sekaligus sebagai kode rahasia Al Qur’an. Temuan ini sungguh menakjubkan karena seluruh teks dalam Al Qur’an tersusun secara matematis dengan begitu canggihnya yang didasarkan pada bilangan 19 pada setiap elemen sebagai bilangan pembagi secara umum. Sistem matematis tersebut memiliki tingkat kompleksitas yang bervariasi dari yang sangat sederhana (bisa dihitung secara manual) sampai dengan yang sangat kompleks yang harus memerlukan bantuan program komputer untuk membuktikan apakah kelipatan 19. Jadi, sistem matematika yang didasarkan bilangan 19 yang melekat pada Al Quran dapat diapresiasi bukan hanya oleh orang yang memiliki kepandaian komputer dan matematika tingkat tinggi, tetapi juga oleh orang yang hanya dapat melakukan penghitungan secara sederhana.


    Selain 19 sebagai kode rahasia Al Qur’an itu sendiri, peristiwa ditemukannya bilangan 19 sebagai “miracle” dari Al Qur’an juga dapat dihubungkan dengan bilangan 19 sebagai kehendak Allah. Disebutkan di atas bahwa kode rahasia tersebut ditemukan pada tahun 1393 Hijriah. Al Qur’an diturunkan pertama kali pada 13 tahun sebelum Hijriah (hijrah Nabi). Jadi keajaiban Al Qur’an ini ditemukan 1393+13=1406 tahun (dalam hitungan hijriah) setelah Al Qur’an diturunkan, yang bertepatan dengan tahun 1974 M.


    Surah 74 adalah Surah Al Muddatsir yang berarti orang yang berkemul (Al Quran dan Terjemahnya, Depag) dan juga dapat berarti rahasia yang tesembunyi, yang memang mengandung rahasia Allah mengenai keajaiban Al Qur’an. Dalam Surah 74 ayat 30-36 dinyatakan:

    (74:30) Di atasnya adalah 19.

    (74:31) Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (19) melainkan untuk:

    - cobaan/ujian/tes bagi orang-orang kafir,

    - meyakinkan orang-orang yang diberi Al Kitab (Nasrani dan Yahudi),

    - memperkuat (menambah)keyakinan orang yang beriman,

    - menghilangkan keragu-raguan pada orang-orang yang diberi Al kitab dan juga orang-orang yang beriman, dan

    - menunjukkan mereka yang ada dalam hatinya menyimpan keragu-raguan; dan orang-orang kafir mengatakan: “Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan ini tiada lain hanyalah sebuah peringatan bagi manusia.

    (74:32) Sungguh, demi bulan.

    (74:33) Dan malam ketika berlalu.

    (74:34) Dan pagi (subuh) ketika mulai terang.

    (74:35) Sesungguhnya ini (bilangan ini) adalah salah satu dari keajaiban yang besar.

    (74:36) Sebagai peringatan bagi umat manusia.


    Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat. Menurut Dr. Rashad Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat karena bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan untuk ujian/tes bagi orang-orang kafir, untuk meyakinkan orang-orang nasrani dan yahudi, untuk meningkatkan keimanan orang yang telah beriman dan juga untuk menghilangkan keragu-raguan. Jadi, tepatnya bilangan 19 ini merupakan keajaiban yang besar dari Al Qur’an sesuai ayat 35 di atas, menurut terjemahan Dr. Rashad Khalifa (dan juga terjemahan beberapa penterjemah lain). Jadi pada ayat 35 kata “innahaa” merujuk pada kata “’iddatun” pada ayat 31.


    Mengapa 19?

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan tentang sistem bilangan. Kita pasti mengenal betul sistem bilangan Romawi yang masih sangat dikenal pada saat ini, seperti I=1, V=5, X=10, L=50, C=100, D=500 dan M=1000. Seperti halnya pada sistem bilangan Romawi, sistem bilangan juga dikenal pada huruf-huruf arab. Bilangan yang ditandai pada setiap huruf dikenal sebagai “nilai numerik (numerical value atau gematrical value)”. Click link ini untuk mengetahui lebih jauh tentang nilai numerik.

    Setelah mengetahui nilai dari setiap huruf arab tersebut, kita dapat menjawab mengapa 19 dipakai sebagai kode rahasia Allah dalam Al Qur’an, dan sekaligus dapat digunakan untuk mengungkap keajaiban Al Qur’an. Berikut beberapa hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa 19.


    * 19 merupakan nilai numerik dari kata “Waahid” dalam bahasa arab yang artinya ‘esa/satu’ (lihat Tabel 2) Tabel 2. Nilai numerik dari kata “waahid”


    * 19 merupakan bilangan positif pertama dan terakhir (1 dan 9), yang dapat diartikan sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir seperti yang dikatakan Allah, misalnya, pada QS 57 ayat 3 sebagai berikut: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS 57:3). Kata “waahid” dalam Qur’an disebutkan sebanyak 25 kali, dimana 6 diantaranya tidak merujuk pada Allah (seperti salah satu jenis makanan, pintu, dsb). Sisanya 19 kali merujuk pada Allah. Total jumlah dari (nomor surat + jumlah ayat pada masing-masing surat) dimana 19 kata “waahid” yang merujuk pada Allah adalah 361 = 19 x 19. Jadi 19 melambangkan keesaan Allah (Tuhan Yang Esa).

    * Pilar agama Islam yang pertama juga dikodekan dengan 19

    “La – Ilaha – Illa – Allah”

    Nilai-nilai numerik dari setiap huruf arab pada kalimah syahadat di atas adalah dapat ditulis sebagai berikut

    “30 1 – 1 30 5 – 1 30 1 – 1 30 30 5”

    Jika susunan angka tersebut ditulis menjadi sebuah bilangan, diperoleh = 30113051301130305 = 19 x … atau merupakan bilangan yang mempunyai kelipatan 19. Jadi jelaslah bahwa 19 merujuk kepada keesaan Allah sebagai satu-satunya dzat yang wajib disembah.

    Beberapa Contoh Bukti-bukti yang Sangat Sederhana tentang Kode 19

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa desain Al Qur’an yang didasarkan bilangan 19 ini, dapat dibuktikan dari penghitungan yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat komplek. Berikut ini hanya sebagian kecil dari keajaiban Al Quran (sistim 19) yang dapat ditulis dalam artikel singkat ini. Fakta-fakta yang sangat sederhana:

    (1) Kalimat Basmalah pada (QS 1:1) terdiri dari 19 huruf arab.

    (2) QS 1:1 tersebut diturunkan kepada Muhammad setelah Surat 74 ayat 30 yang artinya “Di atasnya adalah 19”.

    (3) Al Qur’an terdiri dari 114 surah, 19×6.

    (4) Ayat pertama turun (QS 96:1) terdiri dari 19 huruf.

    (5) Surah 96 (Al Alaq) ditempatkan pada 19 terakhir dari 114 surah (dihitung mundur dari surah 114), dan terdiri dari 19 ayat

    (6) Surat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Surah An-Nashr atau Surah 110 yang terdiri dari 3 ayat. Surah terakhir yang turun terdiri dari 19 kata dan ayat pertama terdiri dari 19 huruf.

    (7) Kalimat Basmalah berjumlah 114 (19×6). Meskipun pada Surah 9 (At Taubah) tidak ada Basmalah pada permulaan surah sehingga jumlah Basmalah kalau dilihat pada awal surah kelihatan hanya 113, tetapi pada Surah 27 ayat 30 terdapat ekstra Basmalah (dan juga 27+30=57, atau 19 x 3). Dengan demikian jumlah Basmalah tetap 114.

    (8) Jika dihitung jumlah surah dari surah At Taubah (QS 9) yang tidak memiliki Basmalah sampai dengan Surah yang memuat 2 Basmalah yaitu S 27, ditemukan 19 surah. Dan total jumlah nomor surah dari Surah 9 sampai Surah 27 diperoleh (9+10+11+…+26+27=342) atau 19×18. Total jumlah ini (342) sama dengan jumlah kata antara dua kalimat basmalah dalam Surat 27.

    (9) Berkaitan dengan inisial surah, misalnya ada dua Surah yang diawali dengan inisial “Qaaf” yaitu Surah 42 yang memiliki 53 ayat dan Surah 50 yang terdiri dari 45 ayat. Jumlah huruf “Qaaf” pada masing-masing dua surat tersebut adalah 57 atau 19 x 3. Jika kita tambahkan nomor surah dan jumlah ayatnya diperoleh masing-masing adalah (42+53=95, atau 19 x 5) dan (50+45=95, atau 19 x 5). Selanjutnya initial “Shaad” mengawali tiga surah yang berbeda yaitu Surah 7, 19, dan 38. Total jumlah huruf “Shaad” di ketiga surah tersebut adalah 152, atau 19 x 8. Hal yang sama berlaku untuk inisial yang lain.

    (10) Frekuensi munculnya empat kata pada kalimat Basmalah dalam Al Qur’an pada ayat-ayat yang bernomor merupakan kelipatan 19 (lihat Tabel 3)

    Tabel 3: Empat kata dalam Basmalah dan frekuensi penyebutan dalam ayat-ayat yang bernomor dalam Al Quran


    No. Kata Frekuensi muncul

    1 Ism 19

    2 Allah 2698 (19×142)

    3 Al-Rahman 57 (19×3)

    4 Al-Rahiim 114 (19×6)



    (11) Ada 14 huruf arab yang berbeda yang membentuk 14 set inisial pada beberapa surah dalam Al Qur’an, dan ada 29 surah yang diawali dengan inisial (seperti Alif-Lam-Mim). Jumlah dari angka-angka tersebut diperoleh 14+14+29=57, atau 19×3.

    (12) Antara surah pertama yang berinisial (Surah 2 atau Surah Al Baqarah) dan surah terakhir yang berinisial (Surah 68), terdapat 38 surah yang tidak diawali dengan inisial, 38=19×2.

    (13) Al-Faatihah adalah surah pertama dalam Al-Quran, No.1, dan terdiri dri 7 ayat, sebagai surah pembuka (kunci) bagi kita dalam berhubungan dengan Allah dalam shalat. Jika kita tuliskan secara berurutan Nomor surah (No. 1) diikuti dengan nomor setiap ayat dalam surah tersebut, kita dapatkan bilangan: 11234567. Bilangan ini merupakan kelipatan 19. Hal ini menunjukkan bahwa kita membaca Al Faatihah adalah dalam rangka menyembah dan meng-Esakan Allah.

    Selanjutnya, jika kita tuliskan sebuah bilangan yang dibentuk dari nomor surah (1) diikuti dengan bilangan-bilangan yang menunjukkan jumlah huruf pada setiap ayat (lihat Tabel 4), diperoleh bilangan : 119171211191843 yang juga merupakan kelipatan 19.

    Tabel 4: Jumlah huruf pada setiap ayat dalam Surah Al Faatihah


    (14) Ketika kita membaca Surah Al-Fatihah (dalam bahasa arab), maka bibir atas dan bawah akan saling bersentuhan tepat 19 kali. Kedua bibir kita akan bersentuhan ketika mengucapkan kata yang mengandung huruf “B atau Ba’” dan huruf “M atau Mim”. Ada 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim. Nilai numerik dari 4 huruf Ba’ adalah 4×2=8, dan nilai numerik dari 15 huruf Mim adalah 15×40=600. Total nilai numerik dari 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim adalah 608=19×32 (lihat Tabel 5).

    Tabel 5. Kata-kata dalam Surah Al-Fatihah yang mengandunghuruf Ba’ dan Mim beserta nilai numeriknya

    Kejadian Di Alam Semesta yang Terkait dengan Bilangan 19

    Beberapa kejadian lain di alam ini dan juga dalam kehidupan kita sehari-hari yang mengacu pada bilangan 19 adalah:

    · Telah dibuktikan bahwa bumi, matahari dan bulan berada pada posisi yang relatif sama setiap 19 tahun

    · Komet Halley mengunjungi sistim tata surya kita sekali setiap 76 tahun (19×4).

    · Fakta bahwa tubuh manusia memiliki 209 tulang atau 19×11.

    · Langman’s medical embryology, oleh T. W. Sadler yang merupakan buku teks di sekolah kedokteran di Amerika Serikat diperoleh pernyataan “secara umum lamanya kehamilan penuh adalah 280 hari atau 40 minggu setelah haid terakhir, atau lebih tepatnya 266 hari atau 38 minggu setelah terjadinya pembuahan”. Angka 266 dan 38 kedua-duanya adalah kelipatan dari 19 atau 19×14 dan 19×2.

    Lima Pilar Islam (Rukun Islam) dan Sistem 19

    Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi sejak Nabi Ibrahim sebagai the founding father of Islam (misalnya lihat QS 2:67, 130-136; QS 5:44, 111; QS 3:52).Pesan utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah sama yaitu menyembah Allah yang Esa, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Allah menyempurnakan Islam melalui Nabi Muhammad. Jadi praktek shalat, zakat, puasa dan haji telah dilakukan dan diajarkan oleh Nabi-nabi sejak Nabi Ibrahim. Dari kelima pilar agama Islam, dapat ditunjukkan bahwa semua berkaitan dengan sistim bilangan 19 (kelipatan 19).

    · Syahadat

    Telah dibahas di atas bahwa pilar pertama agama Islam “Laa Ilaaha Illa Allah” didisain berdasarkan bilangan 19.

    · Shalat

    Kata “shalawat” yang merupakan bentuk jamak dari kata “shalat“ muncul di Al Qur’an sebanyak 5 kali. Ini menunjukkan bahwa perintah Allah untuk melaksanakan shalat 5 kali sehari dikodekan di Al Qur’an. Selanjutnya jumlah rakaat dalam shalat dikodekan dengan bilangan 19. Jumlah rakaat pada shalat subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya masing-masing adalah 2,4,4,3, dan 4 rakaat. Jika jumlah rakaat tersebut disusun menjadi sebuah angka 24434 merupakan bilangan kelipatan 19 atau (24434 = 19×1286). Digit 1286 kalau dijumlahkan akan didapat angka 17 (1+2+8+6) yang merupakan jumlah rakaat shalat dalam sehari. Untuk hari Jum’at jumlah rakaat Shalat adalah 15, karena Shalat Jum’at hanya 2 rakaat. Ini juga dapat dikaitkan dengan bilangan 19 (kelipatan 19). Jika kita buat hari Jum’at sebagai hari terakhir, maka jumlah rakaat shalat mulai hari Sabtu sampai Jum’at dapat ditulis secara berurutan sebagai berikut: 17 17 17 17 17 17 15. Jika urutan bilangan tersebut kita jadikan menjadi satu bilangan 17171717171715, maka bilangan tersebut merupakan bilangan dengan kelipatan 19 atau (19 x 903774587985). Jadi pada intinya shalat itu menyembah Tuhan yang Satu (ingat: 19 adalah total nilai numerik dari kata ‘waahid’). Surah Al-Fatihah yang dibaca dalam setiap rakaat dalam Shalat seperti dibahas sebelumnya juga mengacu pada bilangan 19. Selanjutnya, kata “Shalat’ dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 67 kali. Jika kita jumlahkan nomor surat-surat dan nomor ayat-ayat dimana ke 67 kata “Shalat” disebutkan, diperoleh total 4674 atau 19×246.

    · Puasa

    Perintah puasa dalam Al Qur’an disebutkan pada ayat-ayat berikut:

    - 2:183, 184, 185, 187, 196;

    - 4:92; 5:89, 95;

    - 33:35, 35; dan

    - 58:4.

    Total jumlah bilangan tersebut adalah 1387, atau 19×73. Perlu diketahui bahwa QS 33:35 menyebutkan kata puasa dua kali, satu untuk orang laki-laki beriman dan satunya lagi untuk wanita beriman.

    · Kewajiban Zakat dan Menunaikan Haji ke Mekkah

    Sementara tiga pilar pertama diwajibkan kepada semua orang Islam laki-laki dan perempuan, Zakat dan Haji hanya diwajibkan kepada mereka yang mampu. Hal ini menjelaskan fenomena matematika yang menarik yang berkaitan dengan Zakat dan Haji.

    Zakat disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat berikut:

    Penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 2395. Total jumlah ini jika dibagi dengan 19 diperoleh sisa 1 (bilangan tersebut tidak kelipatan 19).

    Haji disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat

    - 2:189, 196, 197;

    - 9:3; dan

    - 22:27.

    Total penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 645, dan angka ini tidak kelipatan 19 karena jika angka tersebut dibagi 19 kurang 1.

    Kemudian jika dari kata Zakat dan Haji digabungkan diperoleh nilai total 2395+645 = 3040 = 19x160.

    Penutup
    Secara umum disimpulkan bahwa Al Qur’an didisain secara matematis. Apa yang dibahas di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan bukti tentang desain matematis dari Al Qur’an dan khususnya tentang bilangan dasar 19 sebagai desain Al Qur’an yang dapat disajikan pada tulisan ini. Selain itu, tulisan ini hanya memfokuskan pada contoh-contoh yang sangat sederhana, sementara untuk contoh-contoh yang sangat kompleks tidak disajikan di sini karena mungkin akan sulit dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang atau kurang memahami matematika. Bilangan 19 yang juga berarti Allah yang Esa, dan juga berarti tidak ada Tuhan melainkan Dia, dapat dikatakan sebagai “Tanda tangan Allah” di alam semesta ini. Hal ini sesuai dengan salah satu firman Allah yang menyatakan bahwa seluruh alam ini tunduk dan sujud kepada Allah dan mengakui keesaan Allah. Hanya orang-orang kafir lah yang tidak mau sujud dan mengakui keesaan Allah. Allah dalam menciptakan Al Qur’an dan alam semesta ini telah melakukan perhirtungan secara detail, seperti firman Allah yang berbunyi: “dan Allah menghitung segala sesuatunya satu per satu (secara detail)” (QS 72:28). Jumlahkan angka-angka pada nomor surah dan ayat tersebut !!!!!! Anda memperoleh angka 19 (7+2+2+8=19). Dari uraian di atas khususnya mengenai lima pilar Islam diperoleh kesimpulan yang sangat tegas bahwa pemeluk Islam adalah orang-orang yang pasrah dan tunduk menyembah dan mengakui keesaan Allah seperti yang ditunjukkan bahwa kelima pilar Islam tersebut berkaitan dengan sistim bilangan 19 (nilai numerik dari kata “waahid” atau Esa). Hal ini juga sesuai dengan Islam sendiri yang yang secara harfiah dapat berarti pasrah/tunduk. Hal lain yang dapat diambil sebagai pelajaran dari sistim bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an adalah terpecahkannya “unsolved problem” mengenai perdebatan di antara para ulama terhadap status “Basmalah” pada Surah Al-Faatihah apakah termasuk salah satu ayat dalam surah tersebut atau tidak. Dengan ditemukannya bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an, bukti-bukti matematis pada tulisan ini telah membuktikan bahwa lafal “Basmalah” termasuk dalam salah satu ayat Surah Al-Fatihah. Sebagai penutup, semoga tulisan ini dapat menambah keimanan bagi orang-orang yang beriman, menjadi tes/ujian bagi mereka yang belum beriman, dan menghilangkan keragu-raguan bagi mereka yang hatinya dihinggapi keragu-raguan akan kebenaran Al Qur’an. Allah akan membiarkan sesat orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya (QS 74:31).

    Catatan:
    Untuk memverifikasi “keajaiban matematis” dari Al Qur’an anda perlu menggunakan Al Qur’an yang dicetak menurut versi cetak Arab Saudi atau Timur Tengah pada umumnya. Mengapa? Hasil penelitian yang saya lakukan, terdapat banyak perbedaan antara Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya dan Qur’an versi cetak Arab Saudi (kebetulan saya memegang Qur’an versi cetak Arab Saudi), meskipun perbedaan tersebut tidak berpengaruh pada makna/arti. Perbedaan tersebut hanya pada cara menuliskan beberapa kata. Meskipun demikian, jika mengacu pada “Keajaiban Matematis” dari Al Qur’an, Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya (yang disusun oleh orang Indonesia) menyalahi aturan yang aslinya sehingga keajaiban matematis tidak muncul. Saya hanya memberikan 2 contoh kata saja dari sekian kata yang berbeda penulisannya yaitu kata “shirootho” dan “insaana”. Menurut versi cetak Arab Saudi, tidak ada huruf “ALIF” antara huruf “RO’” dan “THO” pada kata “SHIROOTHO” (lihat di Surat Al Fatihah) dan antara huruf “SIN” dan “NUN”pada kata “INSAANA”, tetapi menurut versi cetak Indonesia pada umumnya terdapat huruf ALIF pada kedua kata tersebut. Pada versi cetak Arab Saudi, untuk menunjukkan bacaan panjang pada bunyi ROO dan SAA pada kata SHIROOTHO dan INSAANA, digunakan tanda “fathah tegak”. Saya paham, maksud orang menambahkan ALIF pada kedua kata tersebut agar lebih memudahkan bagi pembacanya, tetapi ternyata menyimpang dari aslinya. Maka dari itu anda menemukan jumlah huruf yang lebih banyak pada Surat Al Fatihah ayat 6 dan 7 dari yang saya tuliskan. Sebagai tambahan, salah satu ciri Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya adalah Surat Al Fatihah terletak pada HALAMAN 2, sementara versi cetak Arab Saudi, Fatihah berada pada HALAMAN 1.
    Mengenai jumlah kata, kata harus didefinisikan sebagai susunan dari beberapa huruf (dua hrurf atau lebih), sehingga anda harus memperlakukan “WA atau WAU” sebagai huruf meskipun bisa diartikan dengan kata “DAN” dalam bahasa Indonesia. Perlakuan “WA” (misalnya pada kata “WATAWAA”) sebenarnya bisa disamakan dengan “BI” (pada kata BISMI), karena kebetulan BI bisa gandeng dengan kata berikutnya, sementara WA tidak bisa ditulis gandeng dengan kata yang mengikutinya. Jadi jangan hitung “WA” sebagai kata, tetapi sebagai huruf.


    Oleh: Ali Said
    Daftar dacaan:
    1. Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya.
    2. Suwaidan, S., Numeric Miracles In the Holy Qur’an, www.islamicity.org
    3. Berbagai sumber di www.submission.org dan www.alquran-indonesia berikut website terkait

    angka dalam Al qur an

    Seiring berjalannya waktu, banyak sekali fakta-fakta unik yang ditemukan di dalam kitab suci. Fakta-fakta tersebut seperti menyatakan kembali bahwa pemikiran manusia tentang agama yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan adalah sebuah kesalahan yang besar.

    Berikut ini saya sedikit menyajikan sebuah artikel unik yang diambil dari Majalah Islam Qiblati. Sebuah majalah yang menyajikan informasi-informasi menarik tentang Islam dan dunianya. Berikut adalah sebuah data yang diambil dari seorang ilmuwan bernama Dr. Tariq Al Swaidan mengenai angka-angka tersembunyi yang beliau temukan di dalam Al Quran. Kutipannya kurang lebih sebagai berukut sebagai berikut.
    Sungguh menarik data yang dikemukakan oleh Dr. Tariq Al Swaidan, beliau menemukan sejumlah versi di dalam Al Quran yg menyebutkan satu persoalan yang sama dengan yang lainnya, misalnya laki2 sama denga wanita. Meskipun hal ini dipandang dari tata bahasa, namun fakta yang menakjubkan adalah bahwa kata laki2 dalam al-quran disebutkan sebanyak 24 kali dan wanita juga disebutkan 24 kali. Susunan kata ini tidak hanya benar dalam nilai struktur bahasa, tapi juga menunjukkan kebenaran secara matematik, misal 24=24.
    Berdasarkan analisis lebih mendalam dari beberapa versi, bahwa kejadian ini terlihat konsisten pada keseluruhan al-quran. Lihatlah bukti yg menakjubkan dari jumlah kata2 dalam al-quran (versi bhs arab) berikut ini:1. Dunia (kehidupan sekarang) disebutkan 115 kali. Akhirat( kehidupan setelah dunia ini) disebutkan 115 kali.
    2. Malaikat 88 kali, syaitan 88 kali.
    3. Kehidupan 145 kali, kematian 145 kali.
    4. Kebaikan/manfaat 50 kali, jahat 50 kali.
    5. Orang2 50 kali, nabi 50 kali.
    6. Iblis(raja syaitan) 11 kali, menyelamatkan diri dari iblis 11 kali.
    7. Musibah (bencana) 75 kali, syukur 75 kali.
    8. Shodaqoh 75 kali, kepuasan 75 kali.
    9. Orang2 yg tersesat 17 kali, syuhada 17 kali.
    10. Muslimin 41 kali, jihad 41 kali.
    11. Emas 8 kali, kehidupan yg mudah 8 kali.
    12. Sihir 60 kali, fitnah 60 kali.
    13. Zakat 32 kali, barokah 32 kali.
    14. Pikiran 39 kali, cahaya 39 kali.
    15. Lidah 25 kali, khotbah 25 kali.
     16. Harapan 8 kali, ketakutan/kecemasan 8 kali.
    17. Berbicara di depan publik 18 kali, pempublikasian 18 kali.
    18. Penderitaan 114 kali, kesabaran 114 kali.
    19. Muhammad 4 kali, syari’ah (ajaran rasululloh saw) 4 kali.
    20. Laki2 24 kali, wanita 24 kali.
    Dan yg cukup mengagumkan lagi, perhatikan berapa kali kata2 berikut terlihat:1. SHALAT 5, BULAN 12, HARI 365
    2. LAUT 32, TANAH 13 3.Jadi laut+darat = 32+13= 45
    Laut = 32/45×100 = 71,1111111% Tanah = 13/45×100% = 28,888889% .
    Laut+tanah = 100% Ilmu pengetahuan modern kini membuktikan bhw air meliputi 71,111% wilayah bumi, dan daratan menutupi 28,8889%.
    Artikel yang sangat menarik, bisa dikatakan bahwa artikel-artikel semacam inilah yang menjadi petunjuk bahwa sebenarnya agama dan ilmu pengetahuan itu tidaklah bertentang. Bahkan bisa saja justru agama yang memberikan manusia ke dalam sebuah jalan ilmu pengathuan yang tidak dapat ditemui sebelumnya. Adalah bijak untuk membatasi diri kepada sesuatu hal yang masih jauh dari pemikiran kita, bahwa barangkali anggapan sekelompok manusia yang berdasarkan fakta, sebenarnya masih terbatass pada fakta itus sendiri.